Salamsejahtera, Sejahtera bagi anda yang membaca tulisan ini. Banyak hal yang ingin kita dapatkan di dunia ini, mungkin kekayaan, kedudukan, atau status sosial yang tinggi di masyarakat, saya tidak tahu apa yang sedang anda kejar, apakah itu kedudukan, prestasi, atau berapa penghasilan Anda saat ini, atau berapa banyak Anda ingin memiliki
Dari Kehidupan Howard W. Hunter Salah seorang teman sejawat Presiden Howard W. Hunter dalam Kuorum Dua Belas Rasul menggambarkan dia sebagai seorang yang “memiliki kesabaran luar biasa yang datang dari kedamaian batiniah yang besar.”1 Presiden Hunter sering berbicara tentang kedamaian batin, mengajarkan bahwa seseorang dapat menerimanya hanya dengan berpaling kepada Allah—dengan memercayai-Nya, menjalankan iman, dan berusaha melakukan kehendak-Nya. Kedamaian seperti itu menolong mendukung dia melalui banyak masa yang sulit. Pada akhir tahun 1975 seorang dokter merekomendasikan operasi otak untuk istri Presiden Hunter, Claire. Presiden Hunter bergumul mengenai apakah operasi tersebut merupakan yang terbaik bagi Claire, karena itu akan melemahkan tubuhnya yang rentan dan mungkin tidak akan memperbaiki kondisinya. Dia pergi ke bait suci, berunding dengan para anggota keluarga, dan segera merasakan bahwa operasi tersebut memberikan harapan terbaik untuk memberikan pertolongan bagi Claire. Menggambarkan perasaannya pada hari operasi, dia menulis “Saya bersamanya hingga ke pintu-pintu ruang operasi, memberikan kecupan kepadanya, dan dia dibawa melalui pintu-pintu itu. Sementara waktu berlalu, saya menunggu dan bertanya-tanya .… Tiba-tiba rasa cemas yang tegang berubah menjadi perasaan damai. Saya tahu bahwa keputusan yang benar telah dibuat dan bahwa doa-doa saya telah dijawab.”2 Pada tahun 1989, Presiden Hunter memiliki pengalaman lain di mana dia merasakan kedamaian di saat yang sulit. Dia berada di Yerusalem untuk mendedikasikan Pusat Yerusalem untuk Kajian Timur Dekat Universitas Brigham Young. Beberapa kelompok telah memprotes keberadaan Gereja di Yerusalem, dan sebagian orang telah mengancam dengan kekerasan. Salah seorang pembicara dalam pendedikasian tersebut adalah Penatua Boyd K. Packer dari Kuorum Dua Belas, yang belakangan menuturkan insiden ini “Sewaktu saya berbicara, ada sedikit keributan di belakang aula. Pria-pria berpakaian seragam militer telah memasuki ruangan. Mereka mengirimkan sebuah catatan kepada Presiden Hunter. Saya berpaling dan meminta petunjuk. Dia berkata, Ada ancaman bom. Apakah Anda takut?’ Saya berkata, “Tidak.’ Dia berkata, Saya juga tidak; silakan selesaikan ceramah Anda.’”3 Kebaktian pendedikasian diteruskan tanpa insiden; tidak ada bom. Dalam situasi-situasi seperti ini, Presiden Hunter percaya pada janji kedamaian ini dari Juruselamat, yang sering dia kutip “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” Yohanes 1427. GambarKristus bersama Petrus di air Kita harus “memfokuskan pandangan kita kepada Yesus” dan tidak pernah “memalingkan fokus pandangan kita dari Dia kepada siapa kita harus percaya.” Ajaran-Ajaran Howard W. Hunter 1 Yesus Kristus adalah sumber kedamaian sejati kita. Dalam meramalkan kelahiran Kristus lebih dari 700 tahun sebelum itu terjadi, Nabi Yesaya menggunakan sebutan-sebutan yang mengungkapkan kekaguman yang luar biasa .… Salah satu dari sebutan-sebutan ini yang khususnya menarik di dunia kita saat ini adalah “Raja Damai” Yesaya 96. “Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan,” dinyatakan Yesaya ayat 7. Betapa ini merupakan harapan yang menggetarkan hati bagi dunia yang sudah bosan dengan perang dan terbebani dosa!4 Kedamaian yang dirindukan dunia adalah saat dihentikannya perseteruan; tetapi manusia tidak menyadari bahwa kedamaian adalah keadaan keberadaan yang datang kepada manusia hanya dengan ketentuan dan syarat yang ditetapkan oleh Allah, dan tidak dengan cara lain. Dalam mazmur di Kitab Yesaya terdapat kata-kata ini “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” Yesaya263. Kedamaian sempurna yang disebutkan oleh Yesaya ini datang kepada seseorang hanya melalui suatu kepercayaan kepada Allah. Ini tidak dipahami oleh dunia yang tidak percaya. Pada kesempatan terakhir ketika Yesus mengadakan perjamuan malam bersama Dua Belas, Dia membasuh kaki mereka, memecah-memecahkan roti bagi mereka, dan mengedarkan cawan kepada mereka; kemudian, setelah Yudas pergi dari tengah-tengah mereka, Guru berbicara kepada mereka berkepanjangan. Di antaranya, Dia memberi tahu tentang kematian-Nya yang akan segera datang dan tentang pusaka warisan yang Dia tinggalkan bagi mereka masing-masing. Dia tidak mengumpulkan barang, harta benda, tidak pula kekayaan. Catatan tersebut memberi tahu kita bahwa tidak ada harta milik selain pakaian yang Dia kenakan, dan pada keesokan harinya setelah penyaliban ini pun akan dibagi-bagi oleh para serdadu, yang akan mengundi untuk jubah-Nya. Pusaka warisan-Nya diberikan kepada para murid-Nya dalam bentuk kata-kata yang sederhana namun dalam ini “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” Yohanes 1427. Dia menggunakan bentuk salam dan doa orang Yahudi “Damai Sejahtera-Ku Kuberikan Kepadamu” Ucapan salam dan pusaka warisan ini bukan untuk mereka ambil dalam arti biasa, karena Dia berfirman, “… apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” Bukan harapan kosong, bukan sekadar upacara basa-basi, sebagaimana orang dunia menggunakan kata-kata tersebut sebagai masalah budaya; tetapi sebagai pemrakarsa dan Raja Damai, Dia memberikannya kepada mereka. Dia melimpahkannya kepada mereka dan berfirman, “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Dalam beberapa jam mereka akan mengalami masalah, tetapi dengan kedamaian-Nya mereka dapat mengatasi rasa takut dan tetap berdiri teguh. Pernyataan-Nya yang terakhir kepada mereka sebelum menutup doa pada malam yang mengesankan itu adalah ini “… dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yohanes 1633..5 2 Kita memupuk kedamaian sewaktu kita menjalankan asas-asas Injil. Hanya ada satu tangan yang membimbing di alam semesta, hanya satu terang yang benar-benar sempurna, satu mercusuar yang tidak pernah gagal bagi dunia. Terang itu adalah Yesus Kristus, terang dan hidup dunia, terang yang oleh seorang nabi Kitab Mormon gambarkan sebagai “terang yang tanpa akhir, yang tidak pernah dapat digelapkan.” Mosia 169. Sewaktu kita mencari pantai keselamatan dan kedamaian, baik kita wanita dan pria secara individu, keluarga, komunitas, ataupun bangsa, Kristus adalah satu-satunya mercusuar yang padanya kita dapat pada akhirnya bersandar. Dia adalah yang mengatakan tentang misi-Nya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Yohanes 146 .… Pertimbangkan, misalnya, petunjuk ini dari Kristus kepada para murid-Nya. Dia berfirman, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 544. Pikirkan manfaat apa yang akan diberikan petuah ini saja terhadap lingkungan tempat tinggal Anda dan saya, di komunitas di mana Anda dan anak-anak Anda tinggal, di negara-negara yang membentuk keluarga global kita yang besar. Saya menyadari ajaran ini menimbulkan tantangan yang signifikan, tetapi pastinya ini merupakan tantangan yang lebih ramah daripada tugas-tugas menakutkan yang ditimbulkan bagi kita oleh peperangan dan kemiskinan serta rasa sakit yang terus dihadapi Ketika kita berusaha menolong mereka yang telah menyakiti kita, ketika kita berdoa bagi mereka yang telah dengan curang memanfaatkan kita, kehidupan kita dapat menjadi indah. Kita dapat memiliki kedamaian ketika kita mencapai kesatuan dengan Roh dan dengan satu sama lain sewaktu kita melayani Tuhan dan menaati Dunia tempat kita tinggal, apakah dekat rumah ataupun jauh, membutuhkan Injil Yesus Kristus. Injil menyediakan satu-satunya jalan bagi dunia mengenal kedamaian .… Kita membutuhkan dunia yang lebih damai, tumbuh dari keluarga dan lingkungan serta komunitas yang lebih damai. Untuk memperoleh dan memupuk kedamaian semacam itu, “kita haruslah mengasihi sesama, bahkan musuh-musuh kita seperti juga teman-teman kita” [Ajaran-Ajaran Presiden Gereja Joseph Smith 2007, 457] .… Kita perlu mengulurkan tangan persahabatan. Kita perlu menjadi lebih baik hati, lebih lemah lembut, lebih mengampuni, dan lebih lambat untuk Cara utama Allah bertindak adalah melalui bujukan dan kesabaran serta kepanjangsabaran, bukan melalui pemaksaan dan konfrontasi langsung. Dia bertindak melalui ajakan yang lembut dan melalui bujukan yang Tidak ada janji kedamaian kepada mereka yang menolak Allah, kepada mereka yang tidak mau menaati perintah-perintah-Nya, atau kepada mereka yang melanggar hukum-hukum-Nya. Nabi Yesaya berbicara tentang kemerosotan dan korupsi para pemimpin dan kemudian melanjutkan dalam petuah-petuahnya dengan mengatakan “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. Tiada damai bagi orang-orang fasik itu, firman Allahku.” Yesaya 5720–21 .… … Pengabaian terhadap Juruselamat atau kegagalan menaati perintah-perintah Allah mendatangkan kegelisahan, gejolak batin, dan perselisihan. Ini adalah kebalikan dari kedamaian. Kedamaian dapat datang kepada individu hanya melalui penyerahan diri tanpa syarat—penyerahan diri kepada-Nya yang adalah Raja Damai, yang memiliki kuasa untuk menganugerahkan Kesulitan-kesulitan dunia yang sering diungkapkan dalam berita utama surat kabar yang mengejutkan hendaknya mengingatkan kita untuk mengupayakan kedamaian yang datang dari menjalankan asas-asas sederhana Injil Kristus. Kelompok minoritas yang menyusahkan tidak akan mengganggu ketenangan jiwa kita jika kita mengasihi sesama kita dan memiliki iman pada kurban pendamaian Juruselamat dan kepastian tenang yang Dia berikan tentang kehidupan abadi. Di mana kita menemukan iman seperti itu di dunia yang bergejolak? Tuhan berfirman, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.” Lukas 119–10.11 Tampaknya bahwa dua kebenaran kekal harus diterima oleh semua orang jika kita ingin menemukan kedamaian di dunia ini dan kehidupan kekal di dunia yang akan datang. 1 Bahwa Yesus adalah Kristus, Putra kekal sejati dari Bapa Surgawi kita, yang datang ke bumi untuk tujuan yang jelas menebus umat manusia dari dosa serta kubur, dan bahwa Dia hidup untuk membawa kita kembali ke hadirat Bapa. 2 Bahwa Joseph Smith adalah Nabi-Nya, dibangkitkan di zaman akhir ini untuk memulihkan kebenaran yang telah hilang bagi umat manusia karena pelanggaran. Jika semua orang mau menerima dan menjalankan dua kebenaran dasar ini, kedamaian akan didatangkan ke Jika Anda, Anda sendiri, melawan … godaan-godaan dan memutuskan untuk berusaha setiap hari, untuk menjalankan Hukum Panen dengan pemikiran dan kebiasaan yang bermoral serta bersih, dengan melakukan segala urusan secara lurus dan jujur, dengan integritas dan kesungguhan dalam penelaahan Anda, dengan puasa, doa, dan ibadat, Anda akan menuai panen kebebasan dan kedamaian batin serta Kehidupan yang dipenuhi dengan pelayanan yang tak mementingkan diri juga akan dipenuhi dengan kedamaian yang melampaui pemahaman .… Kedamaian ini dapat datang hanya melalui menjalankan asas-asas Injil. Asas-asas ini merupakan program dari Sang Raja Begitu banyak di dunia kita yang dimaksudkan untuk menghancurkan … kedamaian pribadi melalui dosa dan godaan yang ribuan jenisnya. Kita berdoa agar kehidupan para Orang Suci akan dijalankan selaras dengan teladan ideal yang diberikan bagi kita oleh Yesus dari Nazaret. Kita berdoa agar upaya-upaya Setan akan dikalahkan, agar kehidupan pribadi dapat menjadi damai dan tenteram, agar keluarga-keluarga dapat menjadi dekat dan peduli dengan setiap anggota, agar lingkungan dan pasak, cabang serta distrik dapat membentuk tubuh Kritus yang agung, memenuhi setiap kebutuhan, meredakan setiap nyeri, menyembuhkan setiap luka sampai seluruh dunia, seperti yang dimohonkan oleh Nefi, akan “maju terus dengan ketabahan di dalam Kristus, memiliki kecemerlangan harapan yang sempurna, dan kasih bagi Allah dan bagi semua orang .… “Saudara-saudara terkasihku,” Nefi melanjutkan, “inilah jalannya; dan tidak ada jalan lain.” 2 Nefi 3120–21.15 Gambarwanita mengurapi kaki Kristus “Kehidupan yang dipenuhi dengan pelayanan yang tak mementingkan diri juga akan dipenuhi dengan kedamaian yang melampaui pemahaman.” 3 Juruselamat dapat menolong kita menemukan kedamaian terlepas dari kekacauan di sekitar kita. Yesus tidak dikecualikan dari kesedihan dan rasa sakit serta kepedihan dan hajaran. Tidak ada lidah yang dapat mengutarakan beban tak terkatakan yang Dia tanggung, demikian juga kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk memahami uraian Nabi Yesaya tentang Dia sebagai “seorang yang penuh kesengsaraan.” Yesaya 533. Kapal-Nya terombang-ambing dalam sebagian besar kehidupan-Nya, dan, setidaknya dari sudut pandang fana, itu karam secara parah ditepi pantai Kalvari yang berbatu. Kita diminta untuk tidak melihat kehidupan dengan sudut pandang fana; dengan sudut pandang rohani kita mengetahui sesuatu yang sangat berbeda telah terjadi di atas salib. Kedamaian berada pada bibir dan dalam hati Juruselamat terlepas betapa pun parahnya badai mengamuk. Semoga kita demikian adanya—dalam hati kita sendiri, di rumah kita sendiri, di negara-negara kita di dunia, dan bahkan dalam hajaran-hajaran yang dihadapi dari waktu ke waktu oleh Gereja. Kita hendaknya tidak berharap untuk melewati kehidupan secara individu atau secara kolektif tanpa sejumlah Seseorang mungkin hidup di lingkungan yang indah dan damai tetapi, karena pertengkaran dan perpecahan internal, berada dalam kondisi yang terus-menerus bergejolak. Sebaliknya, seseorang mungkin berada di tengah-tengah kehancuran total dan pertumpahan darah akibat perang namun memiliki ketenteraman dari kedamaian tak terucapkan. Jika kita mencari bantuan dari manusia dan cara-cara dunia, kita akan menemukan kekacauan dan kebingungan. Jika kita mau berpaling kepada Allah, kita akan menemukan kedamaian bagi jiwa yang resah. Ini diperjelas oleh firman Juruselamat “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan” Yohanes 1633; dan dalam pusaka warisan-Nya kepada Dua Belas dan kepada seluruh umat manusia, Dia berfirman, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu .…” Yohanes 1427. Kita dapat menemukan kedamaian ini sekarang di dunia yang penuh konflik hanya jika kita mau menerima karunia besar-Nya dan ajakan-Nya lebih lanjut “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 1128–29. Kedamaian ini melindungi kita dari gejolak duniawi. Pengetahuan bahwa Allah hidup, bahwa kita adalah anak-anak-Nya, dan bahwa Dia mengasihi kita menyejukkan hati yang susah. Jawaban atas pencarian itu terletak pada iman kepada Allah dan kepada Putra-Nya, Yesus Kristus. Ini akan mendatangkan kedamaian kepada kita sekarang dan dalam kekekalan Di dunia ini dengan kekacauan dan kemajuan duniawi yang sibuk, kita perlu kembali pada kesederhanaan Kristus .… Kita perlu menelaah dasar-dasar kebenaran sederhana yang diajarkan oleh Guru dan menghilangkan apa yang kontroversial. Iman kita kepada Allah harus nyata dan tidak spekulatif. Injil Yesus Kristus yang dipulihkan bisa menjadi pengaruh yang dinamis, yang mendalam, dan penerimaan sejati memberi kita pengalaman yang bermakna dan religius. Salah satu kekuatan besar agama Mormon adalah diterapkannya kepercayaan ini ke dalam pemikiran dan tingkah laku sehari-hari. Ini menggantikan kekacauan dan kebingungan dengan kedamaian dan 4 Dengan memusatkan pandangan kita kepada Yesus, kita dapat menang atas unsur-unsur yang akan menghancurkan kedamaian. Izinkan saya mengingat kembali salah satu cerita besar tentang kemenangan Kristus atas apa yang tampaknya menguji kita dan mencobai kita serta mendatangkan rasa takut ke dalam hati kita. Sewaktu para murid Kristus berangkat dalam salah satu perjalanan yang sering mereka lakukan menyeberangi Danau Galilea, malamnya gelap dan cuacanya buruk serta berbadai. Ombaknya bergejolak dan anginnya bertiup kencang, dan orang-orang yang fana dan lemah ini ketakutan. Sayangnya tiada seorang pun bersama mereka untuk menenangkan dan menyelamatkan mereka, karena Yesus telah ditinggalkan sendirian di tepi danau. Sebagaimana biasanya, Dia mengawasi mereka. Dia mengasihi mereka dan peduli kepada mereka. Di saat kecemasan mereka yang terhebat mereka menengok dan melihat dalam kegelapan sosok dengan jubah yang melambai-lambai, sedang berjalan menuju mereka di bibir danau. Mereka berteriak dengan ketakutan saat melihat pemandangan tersebut, mengira bahwa itu adalah hantu yang berjalan di atas ombak. Dan menembus badai dan kegelapan bagi mereka—sebagaimana begitu sering bagi kita, ketika, di tengah-tengah kegelapan kehidupan, laut tampak sedemikian besarnya dan perahu kita sedemikian kecilnya—datanglah suara kedamaian yang luar biasa dan meyakinkan kembali dengan pernyataan sederhana ini, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.” Petrus berseru, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Dan jawaban Kristus kepadanya adalah sama dengan kepada kita semua “Datanglah.” Petrus melompati sisi perahu dan ke dalam ombak yang bergejolak, dan sementara matanya tertuju kepada Tuhan, angin mungkin mengibaskan rambutnya dan percikan air mungkin membasahi jubahnya, tetapi semuanya baik-baik saja. Hanya ketika dengan iman yang goyah dia melepaskan pandangannya dari Guru untuk melihat gelombang yang bergejolak serta laut yang gelap di bawah dirinya, hanya ketika itu dia mulai tenggelam. Lagi, seperti sebagian besar dari kita, dia berseru, “Tuhan, tolonglah aku.” Dan Yesus pun tidak mengabaikannya. Dia mengulurkan tangan-Nya dan memegang murid yang tenggelam itu dengan hardikan lembut, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Kemudian aman di atas perahu kecil mereka, mereka melihat angin berhenti dan deburan ombak menjadi reda. Segera mereka berada di tempat berlindung mereka, pelabuhan yang aman, di mana semua orang berharap akan berada kelak. Awak perahu seperti juga para murid-Nya dipenuhi dengan ketakjuban yang dalam. Sebagian dari mereka memanggil Dia dengan sebutan yang saya nyatakan hari ini “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Diadaptasi dari Farrar, The Life of Christ, lihat Matius 1422–33. Adalah keyakinan teguh saya bahwa jika sebagai individu, sebagai keluarga, komunitas, dan bangsa, kita dapat, seperti Petrus, memfokuskan pandangan kita kepada Yesus, kita juga dapat berjalan dengan kemenangan di atas “gelombang ketidakpercayaan yang menggunung” dan tetap “tak gentar takut di tengah meningkatnya hembusan angin keraguan.” Tetapi jika kita memalingkan fokus pandangan kita dari Dia kepada siapa kita harus percaya, sebagaimana ini begitu mudah dilakukan dan dunia begitu sangat tergoda untuk melakukannya, jika kita memandang pada kuasa dan amukan dari unsur-unsur yang menakutkan dan menghancurkan di sekitar kita alih-alih kepada Dia yang dapat menolong dan menyelamatkan kita, maka tak terelakkan lagi kita akan tenggelam dalam lautan konflik serta dukacita dan keputusasaan. Pada saat-saat seperti itu ketika kita merasakan air bah mengancam untuk menenggelamkan kita dan kedalaman air akan menelan perahu iman kita yang terombang-ambing, saya berdoa semoga kita selalu mendengarkan di tengah-tengah badai dan kegelapan tuturan manis Juruselamat dunia “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Matius 1427.19 Saran untuk Penelaahan dan Pengajaran Pertanyaan Presiden Hunter mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah sumber kedamaian sejati lihat bagian 1. Pengalaman-pengalaman apa yang telah menolong Anda mengetahui kebenaran ini? Bagaimana kita dapat menerima kedamaian yang Yesus tawarkan? Bagaimana mengasihi orang lain mendatangkan kedamaian bagi kita? Lihat bagian 2. Bagaimana menjalani Injil menolong kita memperoleh kedamaian? Mengapa “penyerahan diri tanpa syarat” kepada Juruselamat perlu bagi kita untuk memperoleh kedamaian? Ulaslah kembali ajaran-ajaran Presiden Hunter di bagian 3. Bagaimana Anda pernah mengalami penggenapan janji Juruselamat untuk “memberi kelegaan kepadamu” dari beban Anda sewaktu Anda datang kepada-Nya? Pikirkan kisah Presiden Hunter tentang Petrus yang berjalan di atas air lihat bagian 4. Apa yang dapat Anda pelajari dari kisah ini tentang bagaimana menemukan kedamaian pada saat-saat yang sulit? Bagaimana Juruselamat telah menolong Anda untuk “[menguatkan] imanmu” dan “jangan takut” di masa-masa sulit? Tulisan Suci Terkait Mazmur 4611; 858; Yesaya 3217; Markus 436–40; Roma 86; Galatia 522–23; Filipi 49; Mosia 43; A&P 1923; 5923; 88125 Bantuan Pengajaran Undanglah anggota kelas untuk memilih salah satu bagian dalam bab yang ingin mereka bahas dan untuk membentuk sebuah kelompok bersama yang lainnya yang memilih bagian yang sama. Imbaulah setiap kelompok untuk membahas pertanyaan terkait pada akhir bab.
Apabilajemaat tidak memiliki pengajaran yang kuat, merekapun punya tendensi dipengaruhi dan dibawa ke arus yang semakin jauh dari kebenaran yang sejati. Tidak terdapat kebenaran yang mengagungkan Tuhan Yesus sebagai Pencipta dan Juru Slamat manusia, melainkan lebih kepada pengagungan oknum si penyampai isi Alkitab. Everyone aspires to live in peace since a believer's life is never free from the trials and tribulations of life. People find it challenging to comprehend and experience the meaning of the peace that comes through Christ as a result. Some people even believe that God is a myth. In accordance with Colossians 315, the purpose of this study is to clarify the idea of living in peace in Christ. A syntactic text analysis methodology was employed in this text, focusing on the text itself and connecting it to other texts as well as a combination of books and journals. The findings demonstrate that, in of Colossians 315, a life of peace can only be found in Christ because He is the Only One capable of defeating human nature. However, believers need to experience union with the peace of Christ and allow Christ to reign in the heart. So that believers will continue to be nurtured by the love and grace of God that remains alive in damai merupakan dambaan dari semua orang sebab tantangan dan masalah hidup tidak pernah lepas dari kehidupan orang beriman. Hal ini membuat orang-orang sulit untuk mengerti dan merasakan arti damai sejahtera yang berasal dari Kristus. Bahkan ada yang beranggapan bahwa Tuhan tidak ada. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep hidup damai sejahtera dalam Kristus menurut Kolose 315. Metode yang digunakan dalam teks ini adalah pendekatan analisis teks secara sintaksis yang fokus pada teks itu sendiri dan dihubungkan dengan teks-teks lainnya serta perpaduan dengan buku juga jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Kolose 315, hidup damai sejahterah hanya ada di dalam Kristus sebab Kristus adalah Pribadi yang bisa menaklukan hati manusia. Akan tetapi orang orang beriman perlu mengalami penyatuan dengan damai sejahtera Kristus dan mengizinkan Kristus yang memerintah didalam hati. Sehingga orang percaya akan terus dipelihara oleh kasih dan anugrah Allah yang tetap hidup dalam diri orang beriman. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Salvation Volume. 3, Nomor. 1, Edisi Juli 2022 Copyright © 2022 The Authors. Published by Sekolah Tinggi Teologi Bala Keselamatan Palu This is an open acces article distributed under the CC Attribution-ShareAlike License Konsep Hidup Damai Sejahtera di dalam Kristus berdasarkan Kolose 315 Nursanti Magdalena Waruwu Sekolah Tinggi Teologi Purwokerto nursantiwaruwu Aricle Historis Submitted 14 Juni 2022 Revised 18 Juli 2022 Accepted 25 Juli 2022 DOI Scan this QR, Read Online Abstract Everyone aspires to live in peace since a believer's life is never free from the trials and tribulations of life. People find it challenging to comprehend and experience the meaning of the peace that comes through Christ as a result. Some people even believe that God is a myth. In accordance with Colossians 315, the purpose of this study is to clarify the idea of living in peace in Christ. A syntactic text analysis methodology was employed in this text, focusing on the text itself and connecting it to other texts as well as a combination of books and journals. The findings demonstrate that, in of Colossians 315, a life of peace can only be found in Christ because He is the Only One capable of defeating human nature. However, believers need to experience union with the peace of Christ and allow Christ to reign in the heart. So that believers will continue to be nurtured by the love and grace of God that remains alive in believers. Keywords Peace, Christ, Union in Christ, Believers Abstrak Hidup damai merupakan dambaan dari semua orang sebab tantangan dan masalah hidup tidak pernah lepas dari kehidupan orang beriman. Hal ini membuat orang-orang sulit untuk mengerti dan merasakan arti damai sejahtera yang berasal dari Kristus. Bahkan ada yang beranggapan bahwa Tuhan tidak ada. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep hidup damai sejahtera dalam Kristus menurut Kolose 315. Metode yang digunakan dalam teks ini adalah pendekatan analisis teks secara sintaksis yang fokus pada teks itu sendiri dan dihubungkan dengan teks-teks lainnya serta perpaduan dengan buku juga jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Kolose 315, hidup damai sejahterah hanya ada di dalam Kristus sebab Kristus adalah Pribadi yang bisa menaklukan hati manusia. Akan tetapi orang orang beriman perlu mengalami penyatuan dengan damai sejahtera Kristus dan mengizinkan Kristus yang memerintah didalam hati. Sehingga orang percaya akan terus dipelihara oleh kasih dan anugrah Allah yang tetap hidup dalam diri orang beriman. Kata Kunci Damai Sejahtera, Kristus, Penyatuan di dalam Kristus, Orang Percaya M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 49 Pendahuluan Kehidupan setiap orang beriman tidak pernah lepas dari tantangan. Tantangan menjadi hal utama yang membuat orang beriman kehilangan kebahagiaan dan damai sejahtera. Kehidupan yang baik-baik saja belum tentu merasakan damai sejahtera. Misalnya kemunculan penyakit Covid di tahun 2019 membuat dunia guncang dan dihantui dengan rasa takut, Sehingga banyak orang menjadi sukar merasakan ketenangan. pemerintah telah memberikan keamanan dengan menjalankan protokol kesehatan. Tetapi hal itu tidak menjamin orang-orang hidup aman dan damai dari penyakit Covid. Penderitaan inilah yang menyebabkan semua orang kehilangan kedamaian dan ketenangan dalam hati. Semua orang memiliki hasrat supaya hidup dalam damai sejahtera, tidak peduli orang kaya atau miskin. Namun tantangan hidup membuat orang beriman sukar dan sulit ada dalam posisi tersebut. Toni Evans mengatakan bahwa damai sejahtera adalah mengalami kegembiraan akan Allah, jumlah uang di bank tidak jadi masalah karena hati penuh dengan kasih Allah. Manusia tidak bisa menjamin hatinya tetap dipenuhi oleh Allah karena hati merupakan hal yang sukar untuk diselami. Dalam hal ini penulis kurang setuju karena kurang menjamin bahwa kegemberiaan akan Allah akan tetap dirasakan oleh orang beriman dalam siatuasi apapun. Hal yang begitu langkah ketika ada orang yang terus hidup dalam kegembiraan akan Allah dalam kondisi sulit sekalipun. Dalam ajaran Harold Lee juga mengatakan bahwa ada kepastian yang memenangkan jiwa jika memilih jalan yang benar dan memiliki semua yang dimiliki Allah untuk hidup dalam bagian dari apa yang dimiliki Allah merupakan hal yang istimewa. Sebab hal itu akan membawa manusia hidup dalam sukacita dan bahagia. Akan tetapi pada disisi lain tantangan dan cobaan selalu sejalan dengan realita hidup. Ini membuat orang beriman dilema akan kehadiran Allah sehingga menjadi ragu dan akhirnya tidak mendapat bagian dari yang dimiliki Allah. Dari beberapa pendapat diatas mendorong penulis ingin menulis dan meneliti konsep hidup damai sejahtera dalam Kristus khusus menurut Kolose 315. Disini Paulus sebagai penulis dari surat Kolose menyatakan bahwa hidup damai sejahtera hanya ada di dalam Kristus karena hanya Kristus yang bisa menaklukan hati manusia. Dengan begini kepenuhan dan kemenangan serta kesempurnaan untuk hidup damai akan menjadi bagian dalam kehidupan setiap orang beriman. Manase berkata damia sejahtera hanya ada didalam Kristus sebab dengan Kristus ada perlindungan, pemeliharaan serta Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan kepada orang-orang beriman. Hal yang perlu di lakukan untuk hidup damai di dalam Kristus adalah mengalami penyatuan dengan Kristus dan mengizinkan Toni Evans, No Titleeologi Allah Malang Gandum Mas, 1999, 314. Harold B. Lee, “Bab 22 Damai Sejahtera Bagi Jiwamu.” Manase Gulo, “Mengelola Perbedaan Menjadi Sebuah Kekayaan Suatu Analisis Teks Kolose 312-17,” Jurnal Manna Rafflesia 7, no. 1 2020 42. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 50 Kristus memeritah di dalam hati. Harapan dalam tulisan ini, semoga bermanfaat bagi pembaca agar memahami konsep hidup damai sejahtera dengan iman kepada Kristus sehingga dapat merasakan keindahan rohani bersama dengan Allah. Metode Penelitian Dalam tulisan ini, penulis menggunakan beberapa metode yaitu penulis menggunakan eksposisi yaitu menguraikan dan memaparkan teks dalam menemukan semantic content dalam teks tersebut. Penulis fokus pada teks itu sendiri dan juga berinteraksi dengan teks-teks lain di dalam Alkitab yang berhubungan dengan semantic atau makna. Penulis juga menggunakan buku dan juga jurnal yang telah terbit untuk mendukung argumen penulis. Kemudian penulis membuat kesimpulan berdasarkan analisis teks yang telah dipaparkan. Pencarian bersifat christ centered dan panduan dari buku juga jurnal. Kajian dari semantic content akan diringkas dan dirumuskan untuk membentuk sebuah konsep teologi. Seperti Hendi yang mengatakan bahwa konsep teologi adalah doktrin atau ajaran yang ditemukan dan akan di buat menjadi sebuah aplikasi bagi kehidupan spiritual orang percaya berdasarkan doktrin dan Pembahasan Syntactic Form Hasil penelitian terhadap Kolose 315 dengan menggunakan syntactic form adalah sebagaimana yang tertuang pada diagram Gulo, “Konsep Pencobaan Menururt Yakobus 1 12-15” 1, no. 2 2020 167. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 51 Terjemahan Literal Dan hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah/wasit dalam hatimu, karena itulah kamu telah di panggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukur. Konteks Histori Kota Kolose terletak di tepi selatan sungai Lycus di wilayah Frigia daerah yang rawan gempa. Ahli geografi Yunani Strabo menggambarkan kota Kolose pada masanya sebagai polisma atau kota kecil yang pada akhirnya lembah Lycus yang bergabung dengan kekaisaran Romawi sampai pada masa Paulus. Beberapa sumber mengatakan bahwa kota Kolose merupakan pusat dagang kuno yang semakin lama memudar kejayaannya. Kitab Kolose merupakan sepucuk surat Paulus kepada orang-orang Kolose tentang pemberitaan injil. Alasan Paulus menulis surat ini karena ada ajaran yang mempengaruhi mereka. Jemaat Kolose menerima ajaran palsu yang menyesatkan iman mereka kepada Kristus. Akibat dari ajaran tersebut, banyak dari orang-orang Kolose jatuh dalam kekhalifahan, mereka berpikir bahwa diri mereka lebih baik dari orang lain dan merasa paling tahu tentang misteri-misteri alam semesta. Paulus menekankan bahwa pokok penting dari surat ini adalah Yesus Kristus sungguh memberi keselamatan yang sempurna dan kedamaian hidup hanya ada didalam Kristus. Ajaran-ajaran lainnya itu hanya menjauhkan orang percaya kepada Kristus yang adalah sumber kedamaian. Karena itu surat Kolose ini menekankan tentang ajaran yang benar bahwa penebusan hanya datang melalui Yesus Kristus. Untuk memperoleh hidup dalam kedamain Kristus maka orang percaya perlu menyatu dengan kedamaian kristus dan memberi diri di pimpin oleh kedamian Kristus untuk memerintah dalam hati yang sulit di selami oleh manusia. Paulus memberitakan Injil supaya orang-orang percaya mengenal Kristus sang pemberi hidup. Supaya orang percaya tidak jatuh pada ajaran sesat. Pembahasan Dalam teks Kolose 315 ini, di awali dengan kata εἰρήνη artinya damai. Kata ini sebagai subjek atau pelaku utama dari kata kerja. Sehingga dapat diartikan sebagai upaya manusia agar Kristus berkuasa dalam hati orang percaya. Karena Allah adalah sumber kasih karunia yang memanggil manusia untuk merasakan kedamaian-Nya. Kata kerja βραβευέ brabeueto merupakan verb imperative present active 3rd person singular dari kata βραβεύ. Kata βραβευέ memiliki arti yaitu sebagai wasit atau hakim’. Ungkapan kata wasit atau hakim ini menunjukkan bahwa Kristus yang menjadi penguasa yang memerintah dalam hati. Wasit berperan sebagai pemberi keputusan ketika terjadi perbedaan pendapat Michael F. Bird, Colossians & Philemon ANew Covenant Commentary, ed. Craig Keener Inggris The Lutterworth Press, 2009, 17. John Drane, Memahami Perjanjian Baru Jakarta PT BPK Gunung Mulia, 1996, 380. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 52 dan perselisihan, maka damai sejahtera yang memberi keputusan sehingga tidak terjadi pertengkaran. Damai sejahtera ini adalah damai sejahtera yang diciptakan oleh Kristus yang dihasilkan melalui kasih penyaliban-Nya di atas kayu salib. Jadi dalam penyaliban Kristus membawa orang percaya pada persatuan akan hidup rukun sehingga tidak terjadi perselisihan dan masalah dalam kehidupan mereka sebagai umat Allah. Yesus Kristus menunjukkan bahwa hanya Dialah satu-satunya Pribadi yang bisa menaklukan hati manusia yang telah jatuh dalam dosa. Pada saat manusia jatuh kedalam dosa maka manusia menjadi rusak dan terpisah dengan Allah yang adalah sumber kedamaian dalam hidup. Dosa manusia membawa mereka lebih cenderung melakukan kejahatan dan hati mereka melakukan dosa manusia dalam dosa membuat mereka menjadi orang yang susah melakukan kebaikan karena natur manusia rusak akibat dosa. Manusia putus hubungan dengan Allah sehingga kedamaian tidak ada didalam hati manusia. Pernyataan pengakuan iman Belgia yang menyatakan bahwa ketidak mampuan manusia melakukan apa yang benar-benar baik membuat mereka tidak mendapatkan pemurnian dan kedamain hati dari mampuan ini membawa manusia pada kehidupan yang rumit bahkan bukan hanya tidak mampu melakukan kebaikan namun manusia juga susah memahami kebaikan itu. Manusia yang hidup dalam dosa tidak mungkin memiliki damai sejahtera dalam hidup. Tidak ada ketenangan dalam diri karena dosa yang memerintah dan berkuasa dalam diri manusia. Karena itu Paulus berkata Tuhan Yesus Kristus dan Allah Bapa kita yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi manusia serta menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan kepada mereka yang percaya 2 Tesalonika 216.Jadi Paulus menawarkan kepada orang Kristen bahwa hanya dengan kasih Karunia dan Anugerah Allah melalui Yesus Kristus yang mampu mengubah natur manusia berdosa menjadi natur asli hidup kudus dihadapan Allah. Bagi Marthin Luther damai sejahtera adalah pemulihan hubungan dengan Tuhan. Orang yang mengalami pemulihan hubungan dengan Tuhan Yesus Kristus dengan sendirinya kedamaian itu mengalir seperti air didalam dirinya. Hendi juga menuliskan dalam bukunya bahwa orang yang telah menerima Kristus dalam hidupnya akan mengalami pemurnian dan kekudusan serta kedamaian dalam hati karena Kristus yang sepenuhnya bekerja didalam dirinya. Mengalami kedamaian Kristus dalam hati, sebagai orang percaya harus merespon anugerah Allah sebab dengan anugerah tersebut merupakan Gulo, “Mengelola Perbedaan Menjadi Sebuah Kekayaan Suatu Analisis Teks Kolose 312-17.” Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, ed. Solomon yo Robby Moningka, Irwan Tjulianto Surabaya Momentum, 2008, 8. Palmer, Lima Pokok Calvinisme. Alkitab Jakarta Lembaga Alkitab Indonesia, 2008, 583. Aripin Tambunan, Tetap Beriman Kristen Di Era Postmos, Murwa. Jakarta PT Kanisus, 2021, 91. Hendi Wijaya, Formasi Rohani Fondasi, Purifikasi, Dan Deifikasi Yogyakarta Leutikaprio, 2018, 122. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 53 dasar utama yang diperlukan hati untuk mengalami pemulihan dan kedamaian hati yang baru didalam Kristus. Sebab damai sejahtera itu bermula dari hati dan perasaan bukan dari sesama yang berinteraksi. Hendi menuliskan dalam bukunya di Inspirasi kalbu 5, mengatakan bahwa hanya Kristus satu-satunya Pribadi yang bisa menguduskan hati dan watak manusia yang telah rusak. Hal ini menegaskan bahwa Kristus adalah fondasi iman yang harus dimiliki orang beriman. Karena kedamaian ada didalam hati dan watak yang kudus yang telah disucikan oleh Yesus Kristus. Orang-orang beriman perlu melakukan kekudusan dengan membuka hati dan pikiran serta mengizinkan Kristus masuk berperan dan berkarya penuh didalam hati. Karena itu, dapat dimengerti bahwa Kedamaian tidak ditentukan dengan seberapa buruknya penderitaan yang dialami atau seberapa banyak uang yang dimiliki saat ini, namun damai sejahtera bisa dirasakan saat hati mengalami kekudusan dan hati yang suci dihadapan Allah. Kedekatan manusia kepada Allah salah satu hal yang memicu munculnya damai sejahtera sekalipun hidup dalam keadaan tidak baik. Tidak bisa di sangkal bahwa Yesus Kristus adalah jalan keluar untuk memperoleh kembali kedamaian dalam hidup manusia. Karena Yesus sepenuhnya kasih yang memelihara hidup. Hendaklah Kristus memerintah atau wasit dalam hatimu. Kata kerja memerintah dalam bahasa aslinya βραβεύ, ini secara aktif menjadi wasit dalam hati. Damai sejahtera Kristus yang memutuskan segala keputusan dalam diri orang percaya. Dengan damai sejahtera Kristus akan membawa orang percaya pada ucapan Syukur kepada Allah sebab Firman Allah berdiam didalam hatinya. Kata Firman Kristus mengacu pada pesan tentang kekayaan hikmat akan Tuhan yang akan membimbing dan memperingati orang percaya dalam segala sesuatu. Jadi orang percaya tidak memerlukan penglihatan khusus untuk meningkatkan hikmat yang telah dimiliki dalam Firman Kristus karena hikmat Kristuslah yang menjadi wasit atau hakim dalam memerintahkan hati manusia. Kristus adalah Pribadi yang mampu mengubah hidup manusia kejalan yang benar serta memperbaharui kembali hati yang hancur karena dosa. Melalui Yesus Kristus semua orang yang percaya dibenarkan dari segala yang tidak bisa dibenarkan dan memperoleh kasih kemurahan Allh dalam hidup. Cara kerja damai Kristus adalah memerintah dalam hati dan pikiran manusia. Menerima Yesus itu tidak dalam bentuk pasif melainkan menerima Yesus itu bersifat aktif. Yesus Kristus yang hidup didalam hati orang beriman, akan memerintah dan berkuasa sehingga menghasilkan damai Kasih Hendi, Inspirasi Kalbu 5 Yogyakarta Leutikaprio, 2022, 88. Dacid E. Garland, The Niv Colossians/Philemon Application Commentary, ed. Klyne Snodgrass Eugene Peterson, Marianne Meye Thompson, Scot Mcknight Komentar Aplikasi NIV, 1998, 285. John R. Tan, Paulus Rasul Kristus Ke-13 Jakarta Seminari Bethel Publishing, 2007, 32. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 54 Kristus. Damai tidak bekerja diluar diri manusia tetapi bekerja didalam hati. Mengalami kedamaian itu tidak bergantung pada apa yang sedang terjadi disekitar kehidupan orang beriman melainkan bagaimana hati tenang dengan keadaan hidup yang sulit. Ketika Yesus Kristus memberikan nyawah-Nya kepada dunia maka Darah Kristus yang mengalir diatas salib menjadi jalan perdamaian manusia dengan Allah. Penyaliban Yesus menjadi bukti bahwa Allah begitu mencintai dan peduli dengan ketenangan dan kedamaian hidup manusia. Dalam kematian Yesus Kristus di atas disalib memberikan data penting bagi orang beriman bahwa salib Kristus merupakan jendela atau jalan untuk memperoleh kembali damai sejahtera dan hidup benar di hadapan Allah melalui iman percaya kepada Kristus. Iman, Anugerah dan lahir baru menjadikan manusia sebagai anak-anak Allah yang memiliki benih Ilahi setelah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam hidup. Betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus dalam memperdamaikan manusia. Melalui salib, Kristus mati dan ini menyadarkan manusia untuk melihat akan kebenaran Allah yang agung dari kasih Allah untuk manusia. Kasih adalah bagian dari keberadaan Allah dan sifat Allah. Jadi perlu untuk dipahami bahwa damai sejahtera yang sesungguhnya hanya ada di dalam Kristus sebab Kristus satu-satunya Pribadi yang bisa menaklukan dan meluluhkan hati manusia. Mengakui Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat membawa kedamaian yang abadi didalam hati. Tidak hanya itu kasih damai sejahtera yang ada pada Kristus menjadi bagian dari yang kita miliki. Dalam eksegesis Kolose 315 ini menegaskan kembali kepada orang beriman bahwa hendaklah hatimu dikuasai oleh kristus sebab bersama dengan Kristus damai itu pasti ada dan menjadi nyata. Kehendak Tuhan Yesus Kristus adalah agar manusia menjadi pencipta damai bukan hanya pemilik/pemerintah melainkan bisa menciptakan damai itu sendiri. Sebab kuasa Kristus ada dalam hati yang diwujudkan dengan tindakan kasih. Sebab itu orang beriman perlu menegaskan damai Kristus dalam dirinya dari segala aspek kehidupannya. Karena itu hiduplah di bawah kasih karunia Allah artinya roh, jiwa, dan tubuh dihidupi oleh energi ilahi Allah melalui Roh Kudus. Mengundang Roh Kudus harus dengan doa dengan penuh iman. Dengan doa maka iman menjadi nyata dan Roh Kudus mengalir hidup dalam diri orang percaya. Hendi mengatakan bahwa doa membawa orang-orang percaya terus bersinergi tanpa henti dengan Allah yang dibuktikan dalam bentuk perbuatan baik yang sesuai dengan kebenaran Allah. Inil artinya orang beriman tidak lagi dikuasai oleh nafsu dan dosa. Melainkan hidup oleh kasih karunia Allah yang merupakan energi ilahi yang memberi hidup pada iman yang telah mati. Dengan menghilangkan segala kedagingan maka Kristus berkenan tinggal dan berdiam dalam hati. Sehingga damai sejahtera Tuhan menjadi nyata bagi orang kristen. Jadi Yesus kristus adalah Pribadi yang Hendi Wijaya, Inspirasi Kalbu 4 Yogyakarta LeutikaPrio, 2020. Warren W. Wiersbe, Nyata Di Dalam Kristus Bandung Yayasan Kalam Hidup, 1996, 133. Hendi Wijaya, Inspirasi Kalbu 2 Yogyakarta Leutikaprio, 2018, 12. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 55 membawa kedamaian dan sukacita dalam hidup orang beriman. Mengalami damai sejahtera Kristus, beberapa hal yang perlu dilakukan dalam hidup adalah Menyatu Dengan Kedamaian Kristus Semua orang pasti hidup dalam penderitaan pada saat manusia pertama jatuh dalam dosa. Banyak yang tersandung, jatuh, dan hidup dalam keputusasaan bahkan tidak berusaha bangkit dari keterpurukan yang terjadi. Kekuatan-kekuatan jahat menyelimuti jalan dengan rintangan-rintangan yang berkabut yang sering kali berusaha untuk menyesatkan manusia ke jalan yang salah. Namun Allah yang adalah kasih menyatakan diri-Nya melalui Pribadi Yesus Kristus yang berinkarnasi menjadi manusia di dunia. Logos Allah hidup ditengah-tengah manusia dapat didengar, disentuh, dilihat, disaksikan, dan diberitakan serta dituliskan oleh para Rasul menjadi Injil 1 Yoh 11-4 sehingga Injil menjadi energi ilahi yang menyelamatkan setiap orang yang percaya Rom 116. Logos Allah yang telah menjadi daging dalam tubuh Yesus Kristus menjadi jalan agar manusia mengenal pribadi Allah yang adalah kasih. Barang siapa yang mendengar dan menjadi percaya dengan injil maka Logos Allah akan lahir dalam hatinya. Logos berinkarnasi di dalam hati Rom 55 melalui karya Roh Kudus seperti Inkarnasi Kristus di dunia melalui Rahim Maria oleh karya Roh melalui inkarnasi Yesus Kristus menjadi jalan masuknya Injil di dalam hati manusia secara personal. Mengenal injil maka memberi diri untuk dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Lahir baru orang percaya mengalami penyatuan dengan Allah sehingga kedamaian mengalir dalam kehidupan orang beriman. Mengalami penyatuan dengan Kristus membawa perubahan dalam hidup yang buruk ke kehidupan yang lebih baik. Yesus lahir dihati manusia dan membuat roh jiwa menjadi hidup sehingga menjadi manusia baru yang tumbuh dewasa seperti Kristus. Hendi mengatakan bahwa Kristus memanggil manusia untuk mengalami kemuliaan-Nya yang kekal dan menerima kasih karunia yang tiada henti mengalir dalam hidup kita. Lewat penyatuan ini maka orang beriman menjadi alat yang di pakai Tuhan untuk menciptakan kedamaian di dunia. Pada saat manusia mengizinkan Tuhan Yesus Kristus berkuasa dalan hati dan mengalami penyatuan dengan-Nya maka tanggung jawab mereka adalah memancarkan kedamaian dan kasih Allah kepada sesama manusia. Kasih kepada sesama merupakan bukti penyatuan hati dengan Tuhan Yesus Kristus. Ia bekerja sesuai dengan peraturan dan hukam yang di berikan Tuhan kepada dunia. Jadi mengalami penyatuan dengan Kristus membuat hubungan yang rusak menjadi pulih kembali. Hingga pada akhirnya orang percaya mengalami kedamaian dengan Tuhan melalui hati nurani. Hendi, “Inspirasi Kalbu 3” 2019 180. Wijaya, Formasi Rohani Fondasi, Purifikasi, Dan Deifikasi. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 56 Pemulihan hubungan dengan Tuhan membuat orang-orang beriman memiliki ketenangan diri dan pikiran yang positif. Pikiran positif yang ada dalam diri orang beriman dinyatakan melalui perilaku, cinta kasih ketenangan dan kedamaian. Damai sejahtera yang dimiliki orang beriman memungkinkan mereka dapat berdamai dengan sesama manusia sehingga tidak saling membenci. Tetapi saling menanggung beban satu sama lain dengan sabar dan penuh kasih. Itulah sebabnya alasan Paulus meletakkan kesabaran setelah damai sejahtera. Ketika seseorang dibenarkan oleh iman melalui Yesus Kristus maka pada saat itu ia memiliki damai sejahtera roma 51. Memiliki damai sejahtera dengan Allah berarti seseorang telah menerima rekonsiliasi dengan Tuhan. Itulah sebabnya, damai sejahtera merupakan tanda dari anak-anak Allah yang selalu membawa damai dalam berelasi, baik dengan Tuhan, keluarga dirumah dan juga sesama anggota jemaat lainnya digereja. Kedamian Kristus Yang Memerintah Dalam Hati Kasih anugerah Allah yang memperkenankan orang beriman untuk mengalami penyatuan dengan Kristus Anak Tunggal-Nya sehingga kedamaian Kristus memerintah dalam hati manusia. Kata memerintah dalam bahasa aslinya adalah βραβευέ merupakan imperative of command yang berfungsi untuk menyatakan perintah langsung, dimana memiliki otoritas dan hak memberi perintah tersirat didalamnya terhadap kata εἰρήνη. Dalam hal ini jelas bahwa kata βραβευέ memiliki makna sebagai wasit yang memerintah dalam hati sehingga tidak salah melakukan tindakan. Ungkapan menjadi wasit yang memerintah menunjukkan bahwa ketika ada perbedaan dan perselisihan, damai sejahtera Kristus yang menghentikan pertengkaran dan perbuatan buruk tersebut. Dalam hal ini menghidupkan damai sejahtera Kristus dalam hati membawa orang kristen pada pemurnian jiwa di hadapan Allah. Hendaklah damai sejahtera Kristus yang memerintah dalam hatimu suatu perintah setelah menjadi orang yang beriman dan percaya kepada Kristus Yesus. Dosa dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang harus dibuang oleh orang beriman agar tidak saling mendustai namun memiliki kedamaian Kristus yang tetap tinggal didalam hati itu hendaklah segala yang kamu lakukan semuanya itu lakukan dalam nama Yesus sebab Dialah yang memerintah dalam hatimu. Apa yang menjadi tindakan, itu keluar dari hati yang diperintahkan oleh Kristus. Prinsip memerintah di dalam hati ini tidak bersifat pasif melainkan aktif. Dalam bahasa aslinya mengandung present aktif yang berfungsi sebagai tindakan yang terus menerus dilakukan. Jadi memerintah menuntun orang kristen untuk terus bersinergi dengan Kristus. Untuk bisa bersinergi Tambunan, Tetap Beriman Kristen Di Era Postmos. Gulo, “Mengelola Perbedaan Menjadi Sebuah Kekayaan Suatu Analisis Teks Kolose 312-17.” Robert G Bratcher dan Eugene A Nida, Surat-Surat Paulus Kepada Jemaat Di Kolose Dan Kepada Filemon Jakarta Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2002, 73. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 57 dengan Kristus seseorang harus menjalani proses latihan dan disiplin tubuh jasmani. Askesis dan sinergi dimulai dari penyucian manusia batiniah jiwa dengan perangkatnya seperti nous dan hati untuk memiliki satu target yaitu nous Kristus yang menerangi manusia lahiriah tubuh dengan anggota-anggotanya. menjalani askesis secara aktif dan rutin akan mambantu orang-orang Kristen supaya Kristus tinggal dan berdiam didalam dirinya. Perjalanan hidup orang beriman adalah menuju kesempurnaan seperti Kristus. Kristus yang memancarkan kedamaian Allah melalui tindakan kasih. Tidak ada kedamaian di luar dari Kristus yang mati untuk manusia berdosa. Karena itu kenakanlah kasih karunia Allah yang menyertai dan memelihara hati dan hidupmu. Sikap kasih seperti Kristus menjadi pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan dari segala sesuatu. Oleh karena itu, Memiliki bagian dari apa yang dimiliki Allah agar hidup ini menjadi berkat yang dipakai Allah untuk memberkati banyak orang. Tindakan kasih dapat menyucikan hati yang murni dihadapan Allah. Yang dinyatakan dengan perkataan, sikap dan tindakan yang baik kepada sesama manusia. Kesimpulan Hidup bersama Kristus adalah pilihan yang tepat bagi semua orang sebab bersama Kristus kedamaian hidup mengalir masuk dalam hati orang beriman. Sedangkan orang yang hidup di luar dari Kristus tidak menjamin hati penuh dengan damai. Sebab hanya Kristus yang bisa menaklukan hati orang yang sulit di selami. Memang hidup tenteram dan bahagia adalah impian banyak orang tidak peduli masih lajang maupun sudah berkeluarga, tua atau muda, kaya atau miskin, semua orang tentu memimpikan hal yang demikian. tenteram dan bahagia lebih kekedamaian pikiran dan hati bukan tentang seberapa banyak materi yang bisa membuat hidup lebih bahagia. Mungkin ada begitu banyak orang miskin di dunia, mereka hidup serba kurang namun hal yang menakjubkan hidupnya bahagia. Ada pula yang berpenghasilan puluhan juta bahkan milyaran perbulan namun hidupnya tidak bahagia. Dari penelitian dan analisis data serta penjelasan dari semantic telah membuktikan tanpa Kristus tidak ada jaminan bahwa hati dipenuhi dengan ketenanga dan suka cita. Teks kolose 315 memberi penjeladan bahwa Kristus adalah Pribadi yang menaklukan hati manusia baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan sulit sekalipun. Karena surat Paulus kepada jemaat Kolose menegaskan kedamaian dan ketenangan hanya ada saat mengalami penyatuan dengan kedamaian Kristus serta menginkan Tuhan memerintah dalam hati. Paulus tidak meminimalkan kekhawatiran, masalah dan kesulitan hidup namun ia menasihatkan supaya hal-hal itu tidak berkuasa dalam diri orang beriman. Hendi, Inspirasi Kalbu 5. Adina Chapman, Pengantar Perjanjian Baru, Yahya Rama. Bandung Yayasan Kalam Hidup, 1995, 103. M. Hia Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih… Jurnal Salvation e-ISSN 2623-193X 58 Jadi hidup damai dan bahagia tidak ditentukan seberapa banyak uang dan harta yang dimiliki tetapi tergantung sejauh mana hati seseorang melangkah sama Kristus. Seberapa besar cinta dan kerinduan untuk hidup bersama Kristus. Pulihnya hubungan dengan Kristus menjadi jalan untuk hidup dalam kedamaian. Karena damai sejahtera adalah anugerah Allah bagi manusia. Melalui hubungan yang baik dengan Allah memampukan orang percaya untuk memelihara kedamaian dan kesucian hati. Semua orang pasti mengalami berbagai macam penderitaan hidup. Tetapi Ketika hati berpaling kepada Kristus, meminta Kristus tinggal dalam dirinya, maka dengan lembut kasih Kristus melepaskan mereka dari kecemasan dan kekhawatiran yang membebani hidup. hati yang rindu dengan kedamaian, akan menuntun orang-orang untuk mencari Kristus. Mengucap syukurlah kepada Tuhan dalam segala hal karena dengan mengucap syukur memberikan kekayaan akan kedamaian Kristus dalam hati orang-orang beriman. Referensi Bird, Michael F. Colossians & Philemon ANew Covenant Commentary. Edited by Craig Keener. Inggris The Lutterworth Press, 2009. Chapman, Adina. Pengantar Perjanjian Baru. Yahya Rama. Bandung Yayasan Kalam Hidup, 1995. Drane, John. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta PT BPK Gunung Mulia, 1996. Evans, Toni. No Titleeologi Allah. Malang Gandum Mas, 1999. Garland, Dacid E. The Niv Colossians/Philemon Application Commentary. Edited by Klyne Snodgrass Eugene Peterson, Marianne Meye Thompson, Scot Mcknight. Komentar Aplikasi NIV, 1998. Gulo, Hiskia. “Konsep Pencobaan Menururt Yakobus 1 12-15” 1, no. 2 2020 165–179. Gulo, Manase. “Mengelola Perbedaan Menjadi Sebuah Kekayaan Suatu Analisis Teks Kolose 312-17.” Jurnal Manna Rafflesia 7, no. 1 2020 42. Hendi. “Inspirasi Kalbu 3” 2019 180. ———. Inspirasi Kalbu 5. Yogyakarta Leutikaprio, 2022. Hendi Wijaya. Inspirasi Kalbu 4. Yogyakarta LeutikaPrio, 2020. Lee, Harold B. “Bab 22 Damai Sejahtera Bagi Jiwamu.” Nida, Robert G Bratcher dan Eugene A. Surat-Surat Paulus Kepada Jemaat Di Kolose Dan Kepada Filemon. Jakarta Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2002. Palmer, Edwin H. Lima Pokok Calvinisme. Edited by Solomon yo Robby Moningka, Irwan Tjulianto. Surabaya Momentum, 2008. Tambunan, Aripin. Tetap Beriman Kristen Di Era Postmos. Murwa. Jakarta PT Kanisus, 2021. Tan, John R. Paulus Rasul Kristus Ke-13. Jakarta Seminari Bethel Publishing, 2007. Wiersbe, Warren W. Nyata Di Dalam Kristus. Bandung Yayasan Kalam Hidup, 1996. Wijaya, Hendi. Formasi Rohani Fondasi, Purifikasi, Dan Deifikasi. Yogyakarta Leutikaprio, 2018. ———. Inspirasi Kalbu 2. Yogyakarta Leutikaprio, 2018. Alkitab. Jakarta Lembaga Alkitab Indonesia, 2008. “Bible Works 10,” ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Yayasan Kalam HidupAdina ChapmanYahya Pengantar Perjanjian BaruRamaChapman, Adina. Pengantar Perjanjian Baru. Yahya Rama. Bandung Yayasan Kalam Hidup, 1995. Drane, John. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta PT BPK Gunung Mulia, 1996. Evans, Toni. No Titleeologi Allah. Malang Gandum Mas, Niv Colossians/Philemon Application CommentaryDacid E GarlandGarland, Dacid E. The Niv Colossians/Philemon Application Commentary. Edited by Klyne Snodgrass Eugene Peterson, Marianne Meye Thompson, Scot Mcknight. Komentar Aplikasi NIV, GuloGulo, Hiskia. "Konsep Pencobaan Menururt Yakobus 1 12-15" 1, no. 2 2020 GuloGulo, Manase. "Mengelola Perbedaan Menjadi Sebuah Kekayaan Suatu Analisis Teks Kolose 312-17." Jurnal Manna Rafflesia 7, no. 1 2020 H PalmerLima Pokok CalvinismePalmer, Edwin H. Lima Pokok Calvinisme. Edited by Solomon yo Robby Moningka, Irwan Tjulianto. Surabaya Momentum, 2008.
UNDANGUNDANG TENTANG HAK ASASI MANUSIA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1. Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan
Hendaklah ”Damai Sejahtera Allah” Menjaga Hati Saudara “[Semoga Yehuwa] menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.”​—BILANGAN 626. 1. Tidak lama sebelum kematiannya, apa yang Paulus tulis kepada Timotius, yang menyingkapkan apa? PADA tahun 65 M., rasul Paulus dipenjarakan di Roma. Meskipun ia tidak lama kemudian dihukum mati dengan kejam oleh seorang eksekutor Roma, Paulus merasakan kedamaian batin. Hal ini nyata dari kata-kata yang ia tulis kepada sahabatnya yang lebih muda, Timotius, ketika ia berkata “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya.”​—2 Timotius 47, 8. 2. Apa yang telah menjaga hati Paulus sepanjang hidupnya yang luar biasa, terus sampai kematiannya? 2 Bagaimana Paulus dapat begitu tenang menghadapi kematian? Karena “damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal” menjaga hatinya. Filipi 47 Damai sejahtera yang sama ini telah menjaga dia selama tahun-tahun yang penuh kegiatan sejak pertobatan awalnya kepada Kekristenan. Hal itu telah menopang dia ketika ia dikeroyok, dipenjarakan, didera, dan dirajam. Hal itu menguatkan dia pada waktu ia memerangi kemurtadan dan pengaruh Yudaisme. Hal itu telah membantu dia berjuang melawan kuasa-kuasa hantu yang tidak kelihatan. Jelas, hal itu telah menguatkan dia terus sampai ke akhir.—2 Korintus 104, 5; 1121-27; Efesus 611, 12. 3. Pertanyaan-pertanyaan apa diajukan mengenai damai dari Allah? 3 Paulus mengalami betapa kuatnya kuasa dari damai sejahtera ini! Apakah kita dewasa ini dapat belajar apa itu sebenarnya? Apakah hal itu akan membantu kita untuk menjaga hati kita dan meneguhkan kita seraya kita “bertanding dalam pertandingan iman” selama “masa yang sukar” dan genting ini?—1 Timotius 612; 2 Timotius 31. Damai dengan Allah—Bagaimana Hal Itu Telah Hilang 4. Apa saja arti dari kata “damai” dalam Alkitab? 4 Dalam Alkitab kata “damai” mengandung banyak arti. Berikut ini ada beberapa, seperti yang didaftarkan dalam The New International Dictionary of New Testament Theology “Dalam seluruh P[erjanjian] L[ama], [shalohmʹ] damai mencakup keadaan sejahtera dalam arti yang paling luas dari kata itu Hak. 1920; kemakmuran Mzm. 733, NW, bahkan sehubungan dengan orang-orang fasik; kesehatan jasmani Yes. 5718[, 19]; Mzm. 384; perasaan puas . . . Kej. 1515 dsb.; hubungan yang baik antar bangsa-bangsa dan manusia . . . Hak. 417; 1 Taw. 1217, 18; keselamatan . . . Yer. 2911; bandingkan Yer. 1413.” Yang paling penting adalah hubungan penuh damai dengan Yehuwa, yang tanpa itu kedamaian lain apa pun, paling banyak, hanya bersifat sementara dan terbatas.—2 Korintus 1311. 5. Bagaimana damai sejahtera ciptaan Allah pada masa awal diganggu? 5 Pada mulanya, seluruh ciptaan berada dalam hubungan damai dengan Yehuwa dalam arti yang lengkap. Dengan alasan yang baik, Allah menyatakan bahwa semua karya ciptaan-Nya sangat baik adanya. Sesungguhnya, malaikat-malaikat di surga bersorak-sorai menyaksikan hal ini. Kejadian 131; Ayub 384-7 Namun, sayang sekali, perdamaian yang bersifat universal ini tidak bertahan. Perdamaian itu dihancurkan ketika makhluk roh yang sekarang dikenal sebagai Setan, menggoda Hawa, makhluk terbaru di antara ciptaan Allah yang cerdas, agar tidak patuh kepada Allah. Adam, suami Hawa, ikut bersama dia, maka dengan hadirnya tiga pemberontak itu, ketidakserasian muncul di alam semesta.—Kejadian 31-6. 6. Apa akibat hilangnya damai dengan Allah bagi umat manusia? 6 Tidak adanya damai dengan Allah berarti bencana bagi Adam dan Hawa, yang sekarang secara bertahap mengalami kemunduran fisik yang berakhir dengan kematian mereka. Adam tidak lagi menikmati kedamaian di Firdaus, sebaliknya ia harus bersusah payah mengerjakan tanah yang belum diolah di luar Eden untuk memberi makan keluarganya yang bertambah besar. Sebaliknya daripada menjadi ibu yang bahagia dari umat manusia yang sempurna, Hawa melahirkan anak-anak yang tidak sempurna dalam kesakitan dan penderitaan. Tidak adanya damai dengan Allah menimbulkan iri hati dan kekerasan di antara umat manusia. Kain membunuh adiknya, Habel, dan menjelang Air Bah, seluruh bumi dipenuhi dengan kekerasan. Kejadian 37–416; 55; 611, 12 Ketika orang-tua kita yang pertama mati, mereka pasti tidak pergi ke liang kubur dengan perasaan puas, “dengan sejahtera,” sebagaimana halnya Abraham ratusan tahun kemudian.—Kejadian 1515. 7. a Nubuat apa yang Allah ucapkan yang menunjuk kepada dipulihkannya damai sejahtera yang lengkap? b Seberapa berpengaruh musuh Allah, Setan itu? 7 Setelah Adam dan Hawa kehilangan kedamaian, kita menemukan kata permusuhan muncul untuk pertama kali dalam Alkitab. Allah berbicara kepada Setan dan berkata “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 315 Seraya waktu berlalu, pengaruh Setan bertambah besar sampai pada taraf sehingga rasul Yohanes dapat mengatakan “Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” 1 Yohanes 519 Suatu dunia di bawah Setan pastilah tidak berdamai dengan Allah. Maka, dengan tepat sang murid Yakobus mengingatkan umat Kristiani “Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?”—Yakobus 44. Berdamai dalam Dunia yang Bermusuhan 8, 9. Setelah Adam berdosa, bagaimana manusia dapat berdamai dengan Allah? 8 Di Eden dulu, ketika Allah mula-mula menyebutkan kata “permusuhan,” Ia juga menubuatkan bagaimana kedamaian yang lengkap akan dipulihkan kepada makhluk-makhluk ciptaan. Keturunan atau benih perempuan Allah yang dijanjikan akan meremukkan kepala dari perusak kedamaian yang pertama. Sejak zaman Eden dan seterusnya, mereka yang mengamalkan iman dalam janji tersebut menikmati hubungan damai dengan Allah. Bagi Abraham, ini berkembang menjadi persahabatan.—2 Tawarikh 207; Yakobus 223. 9 Pada zaman Musa, Yehuwa membentuk keturunan dari Israel, yaitu cicit Abraham, menjadi suatu bangsa. Ia menawarkan damai sejahtera-Nya kepada bangsa ini, sebagaimana terlihat dari berkat yang diucapkan oleh imam besar Harun atas mereka “[Semoga Yehuwa] memberkati engkau dan melindungi engkau; [semoga Yehuwa] menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; [semoga Yehuwa] menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Bilangan 624-26 Damai sejahtera dari Yehuwa akan menghasilkan imbalan yang limpah, tetapi itu ditawarkan dengan persyaratan. 10, 11. Bagi Israel, damai dengan Allah didasarkan atas syarat apa, dan apa yang akan dihasilkannya? 10 Yehuwa berkata kepada bangsa itu “Jikalau kamu hidup menurut ketetapanKu dan tetap berpegang pada perintahKu serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu. Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umatKu.” Imamat 263, 4, 6, 12 Israel dapat menikmati kedamaian dalam arti mereka dilindungi dari musuh-musuh mereka, menikmati kelimpahan materi, dan mempunyai hubungan yang akrab dengan Yehuwa. Akan tetapi ini bergantung kepada kesetiaan mereka terhadap Taurat Yehuwa.—Mazmur 119165. 11 Sepanjang sejarah bangsa itu, orang-orang Israel yang dengan setia berupaya mematuhi hukum-hukum Yehuwa, memang menikmati damai dengan Dia, dan hal itu sering menghasilkan banyak berkat lain. Selama tahun-tahun permulaan pemerintahan Raja Salomo, damai dengan Allah menghasilkan kemakmuran materi dan juga masa bebas perang dengan bangsa-bangsa tetangga Israel. Ketika menggambarkan masa itu, Alkitab berkata “Orang Yehuda dan orang Israel diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya, dari Dan sampai Bersyeba seumur hidup Salomo.” 1 Raja 425 Bahkan ketika permusuhan berkembang dengan negara-negara tetangga, orang-orang Israel yang setia tetap memiliki damai sejahtera yang benar-benar penting, perdamaian dengan Allah. Maka, Raja Daud, seorang pejuang yang terkenal, menulis “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya [Yehuwa], yang membiarkan aku diam dengan aman.”—Mazmur 48. Dasar yang Lebih Baik untuk Perdamaian 12. Bagaimana Israel akhirnya menolak perdamaian dengan Allah? 12 Pada akhirnya, Benih yang akan memulihkan keadaan damai yang selengkapnya tiba dalam pribadi Yesus, dan pada waktu kelahirannya para malaikat bernyanyi “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” Lukas 214 Yesus muncul di Israel, namun meskipun berada di bawah perjanjian Allah, bangsa itu secara umum menolak dia dan menyerahkan dia kepada orang-orang Roma untuk dibunuh. Tidak lama sebelum kematiannya, Yesus meratapi Yerusalem, dengan berkata “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” Lukas 1942; Yohanes 111 Karena menolak Yesus, Israel sama sekali kehilangan damai dengan Allah. 13. Cara baru apa yang Yehuwa tetapkan bagi manusia untuk berdamai dengan Dia? 13 Meskipun demikian, maksud-tujuan Allah tidak digagalkan. Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, dan ia mempersembahkan kepada Yehuwa nilai dari kehidupannya yang sempurna sebagai tebusan bagi manusia-manusia yang berhati benar. Ibrani 911-14 Korban Yesus menjadi jalan yang baru dan lebih baik bagi umat manusia—bagi Israel dan non-Israel jasmani—untuk memperoleh perdamaian dengan Allah. Paulus berkata dalam suratnya kepada umat Kristen di Roma “Ketika masih seteru, [kita] diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya.” Roma 510 Pada abad pertama, mereka yang berdamai dengan cara ini diurapi dengan roh suci untuk diangkat menjadi anak-anak Allah dan anggota-anggota suatu bangsa rohani yang baru yang disebut “Israel milik Allah.”—Galatia 616; Yohanes 112, 13; 2 Korintus 121, 22; 1 Petrus 29. 14, 15. Gambarkan damai dari Allah, dan jelaskan bagaimana hal ini melindungi umat Kristen sekalipun mereka menjadi sasaran kebencian Setan. 14 Orang-orang Israel rohani yang baru ini akan menjadi sasaran kebencian Setan dan dunianya. Yohanes 1714 Akan tetapi, mereka akan memiliki “damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita.” 2 Timotius 12 Yesus memberi tahu mereka “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”—Yohanes 1633. 15 Inilah damai sejahtera yang telah membantu Paulus dan rekan-rekan Kristianinya bertahan meskipun semua penderitaan yang mereka hadapi. Hal itu mencerminkan hubungan damai yang harmonis dengan Allah yang dimungkinkan oleh korban Yesus. Ini memberikan kepada pemiliknya kedamaian pikiran dan ketenangan karena ia menyadari perhatian Yehuwa kepadanya. Seorang anak yang berada dalam pelukan bapaknya yang penuh kasih mempunyai perasaan damai yang sama, kepastian sepenuhnya bahwa ia dijaga oleh seseorang yang menyayangi dia. Paulus menganjurkan jemaat di Filipi “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”—Filipi 46, 7. 16. Bagaimana perdamaian dengan Allah mempengaruhi hubungan umat Kristen abad pertama terhadap satu sama lain? 16 Salah satu akibat dari hilangnya perdamaian manusia dengan Allah adalah kebencian dan perselisihan. Bagi umat Kristen pada abad pertama, menemukan keadaan damai dengan Allah justru menghasilkan hal sebaliknya perdamaian dan persatuan di antara mereka sendiri, yang Paulus sebut “ikatan damai sejahtera [yang mempersatukan, NW].” Efesus 43 Mereka sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera, dan Allah sumber kasih dan damai sejahtera menyertai mereka.’ Selain itu, mereka memberitakan “Kabar Baik tentang damai,” yang pada dasarnya adalah kabar baik tentang keselamatan bagi “orang yang layak menerima damai sejahtera,” mereka yang menyambut kabar baik.—2 Korintus 1311; Kisah 1036, BIS; Lukas 105, 6. Suatu Perjanjian Damai 17. Apa yang telah Allah adakan dengan umat-Nya pada zaman sekarang? 17 Apakah damai sejahtera demikian dapat ditemukan dewasa ini? Ya, dapat. Sejak didirikannya Kerajaan Allah di bawah Kristus Yesus yang dimuliakan pada tahun 1914, Yehuwa telah mengumpulkan sisa dari orang-orang Israel milik Allah ke luar dari dunia ini dan mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Dengan demikian Ia memenuhi janji-Nya yang diucapkan melalui nabi Yehezkiel “Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudusKu di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.” Yehezkiel 3726 Yehuwa mengadakan perjanjian ini dengan umat Kristen terurap yang, seperti halnya saudara-saudara mereka pada abad pertama, mengamalkan iman kepada korban Yesus. Dimurnikan dari polusi rohani, mereka membaktikan diri mereka kepada Bapak surgawi mereka dan berupaya mengikuti perintah-perintah-Nya, yang terutama dengan memelopori pemberitaan kabar baik tentang Kerajaan Allah yang sudah berdiri ke seluas dunia.—Matius 2414. 18. Bagaimana sambutan orang-orang dari antara bangsa-bangsa ketika mereka menyadari bahwa nama Allah ada pada Israel milik Allah? 18 Nubuat itu selanjutnya berbunyi “Tempat kediamanKupun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, [Yehuwa], menguduskan Israel.” Yehezkiel 3727, 28 Selaras dengan ini, ratusan ribu, ya jutaan orang, dari “berbagai-bagai bangsa” mengakui bahwa nama Yehuwa ada pada Israel milik Allah. Zakharia 823 Dari segala bangsa, mereka datang untuk melayani Yehuwa bersama bangsa rohani itu, membentuk “kumpulan besar” yang dilihat sebelumnya di Wahyu. Karena “telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba,” mereka akan selamat melewati sengsara besar memasuki dunia baru yang penuh damai.—Wahyu 79, 14. 19. Kedamaian apa yang dinikmati umat Allah sekarang? 19 Bersama-sama, Israel milik Allah dan kumpulan besar menikmati kedamaian rohani yang dapat disamakan dengan kedamaian yang dinikmati Israel di bawah Raja Salomo. Mengenai mereka, Mikha menubuatkan “Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan.” Mikha 43, 4; Yesaya 22-4 Selaras dengan ini, mereka telah meninggalkan peperangan dan pertikaian, secara simbolik menempa pedang mereka menjadi mata bajak dan tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Dengan demikian, mereka menikmati persaudaraan yang penuh damai dalam masyarakat internasional mereka, tidak soal kebangsaan, bahasa, suku, atau latar belakang sosial mereka. Mereka merasa senang atas kepastian dari penjagaan dan perlindungan Yehuwa. Tidak ada yang mengejutkan mereka.’ Benar, Yehuwa sendiri memberikan kekuatan kepada umat-Nya, Yehuwa sendiri memberkati umat-Nya dengan sejahtera!’—Mazmur 2911. 20, 21. a Mengapa kita harus berupaya memelihara perdamaian kita dengan Allah? b Apa yang dapat kita katakan tentang upaya Setan untuk menghancurkan kedamaian dari umat Allah? 20 Akan tetapi, sebagaimana pada abad pertama M., damai sejahtera hamba-hamba Allah telah menimbulkan kebencian Setan. Setan dilemparkan dari surga setelah Kerajaan Allah berdiri pada tahun 1914, dan sejak itu ia berperang melawan “keturunan yang lain dari wanita itu.” Wahyu 1217, BIS Bahkan pada zaman dia, Paulus mengingatkan “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan . . . roh-roh jahat di udara.” Efesus 612 Karena Setan sekarang harus tetap tinggal di sekitar bumi, peringatan itu sangat mendesak. 21 Setan telah menggunakan berbagai taktik dalam upayanya untuk menghancurkan kedamaian dari umat Allah, tetapi ia telah gagal. Pada tahun 1919 dahulu, tidak sampai orang yang berupaya melayani Allah dengan setia. Sekarang, lebih dari empat juta orang mengalahkan dunia melalui iman mereka. 1 Yohanes 54 Bagi orang-orang ini, perdamaian dengan Allah dan perdamaian dengan satu sama lain merupakan kenyataan, sebagaimana mereka bertekun menanggung kebencian Setan dan benihnya. Akan tetapi mengingat kebencian ini, dan mempertimbangkan ketidaksempurnaan kita sendiri dan “masa yang sukar” yang kita alami sekarang, kita harus dengan rajin berupaya memelihara damai sejahtera kita. 2 Timotius 31 Dalam artikel berikutnya, kita akan melihat apa yang tercakup dalam hal ini. Dapatkah Saudara Menjelaskan? ◻ Mengapa manusia pada mulanya kehilangan damai dengan Allah? ◻ Bagi Israel, atas apa perdamaian dengan Allah bergantung? ◻ Damai dengan Allah didasarkan atas apa dewasa ini? ◻ Apa gerangan “damai sejahtera Allah” yang menjaga hati kita? ◻ Berkat-berkat selanjutnya apa yang kita nikmati jika kita berdamai dengan Allah?
Kontroversiadalah suatu pertentangan atau sebuah masalah yang memiliki dua sisi berlainan. Banyak teori, buku dan film tentang masa depan yang telah dibuat dan sebagian besar membuat kita menaruh harapan, sebagian justru membuat kita merinding karena efek dari kecanggihan masa depan.Namun sejujurnya, kita tidak akan pernah mengetahui persis apa yang akan
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Istilah "peace" atau "damai sejahtera" sebenarnya dikenal oleh setiap bahasa dari bangsa manapun didalam dunia ini. Baik itu "Shalom aleikhem" dalam bahasa Ibrani, Assalamu 'alaikum dalam bahasa Arab, "Rahayu" dalam bahasa Jawa, "Santi" bagi orang Bali, "Sancay" bagi orang Budha. Hal ini membuktikan bahwa secara sosiologis-anthropologis setiap manusia dari bangsa manapun merindukan terjadi di dalam dirinya suatu kondisi yang disebut di mengenai "kedamaian" di dalam setiap bangsa maupun di dalam setiap ajaran agama adalah berbeda-beda dan bervariasi. Namun minimal memiliki satu kesamaan jika itu berhubungan diri sendiri dan keadaan lingkungannya. Persamaan itu adalah rasa damai itu dihubungkan dengan sifat ketenangan, tidak ada gangguan yang membuat hati menjadi gusar, takut, bagaimana Firman Tuhan sendiri memandang makna "kedamaian" tersebut? Suasana Shalom sebenarnya dimulai pada saat penciptaan alam semesta dan isinya. Dalam Kitab Kejadian 131 Allah berkata "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Di dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah melihat segala yang dijadikan itu amat baik/ hinne tob. Di mata Allah keadaan ciptaan-Nya itu bukan sekedar "baik/tob" namun "sangat baik/hinne tob", dengan penekanan khusus untuk menunjukkan bahwa karyanya itu baik bukan dalam makna yang biasa-biasa, namun dalam pengertian yang luar biasa. Di dalam arti bahwa kata Ibrani tob bermakna suatu kondisi yang termasuk pada suasana shalom. Karena "baik" di sini bermakna suatu kondisi yang tenang, makmur, kelimpahan segala sesuatu yang baik, selamat. Pandangan Alkitab ini sekaligus menolak pandangan filsafat-filsafat yang ada bahwa alam beserta isinya bahkan termasuk manusia adalah suatu keadaan yang kotor, yang tidak sempurna ketika diciptakan. Namun keadaan manusia yang ditempatkan Allah pada situasi yang sangat baik itu tidak berlangsung lama. Ketika manusia mulai tertipu oleh kelicikan si ular Iblis maka situasi "tob" yang merupakan bagian dari keadaan shalom itu mulai buktinya? Buktinya adalah semenjak manusia jatuh dalam dosa, kehidupan manusia tidak lagi memiliki damai sejahtera. Manusia dilanda ketakutan dan kekuatiran yang luar biasa. Hal itu tampak jelas dengan sikap dan respons Adam dan Hawa tidak lama setelah berdosa. Misalnya*Mereka ketakutan dan lari bersembunyi.*Kekuatiran karena sudah telanjang dan berusaha mencari solusi dengan menyemat daun pohon ara. Manusia yang diciptakan pertama tanpa mengenal rasa takut kecuali kepada Allah telah mulai mengalami rasa takut yang tidak sehat. Ya... ini adalah ketakutan yang tidak normal dalam pandangan Allah. Ketakutan yang diakibatkan oleh dosa. "Ia menjawab "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut/arey", karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."Alkitab mencatat rasa takut yang dimiliki oleh manusia untuk yang pertama kalinya pada ayat ini. Manusia itu menjadi takut/arey akibat dosa yang diperbuat. Ketakutan ini menunjukkan tidak adanya peace/shalom di dalam diri manusia akibat dosa. Berarti dosa merupakan salah satu penghambat shalom itu menjadi realitas hidup dalam diri kejatuhan manusia ke dalam dosa, sumber shalom yang dimiliki manusia itu berasal dari hubungan mereka dengan Allah. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa hubungan manusia dan Allah terbukti sangat Allah sering mendatangi taman Eden untuk berakrab ria dengan manusia ciptaanNya. Dalam Kejadian 38 di sana ditulis bahwa Allah mendatangi manusia ketika manusia itu jatuh ke dalam dosa. Secara tidak langsung dalam ayat ini kita mengetahui bahwa sebelumnya Allah sering berkunjung ke kejatuhan manusia kedalam dosa maka hubungan Allah dan manusia yang sebelumnya damai itu telah rusak. Dosa telah menjadi penghalang "shalom" itu menjadi nyata dalam hidup manusia yang sangat dikasihinya. Sehingga menurut pandangan Alkitab bagaimana manusia itu mengalami shalom dalam hidupnya maka manusia harus kembali kepada sifat asal yang mula-mula. Sumber damai itu adalah Allah sendiri, karena Alkitab berkata bahwa Ia adalah The Lord of Peace 2Tes 316.Damai sejahtera dalam bahasa Ibrani adalah shalom, atau eirene di dalam bahasa Yunani. Kedua istilah ini memiliki makna yang sangat luas sekali. Makna shalom atau eirene adalah Keharmonisan dengan Allah dan sesama, ketenangan, kemakmuran, keamanan/rasa aman, keutuhan jiwa dan pikiran. Jika Allah itu adalah sumber shalom itu sendiri maka satu-satunya cara untuk mengalami shalom itu dengan menjalin hubungan yang baik dengan sang shalom itu sendiri. Itulah sebabnya Paulus menasihatkan, "Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu berilah dirimu didamaikan dengan Allah" 2Kor. 520b.Untuk memiliki shalom yang bersumber dari Allah, maka mau atau tidak mau manusia harus berdamai dengan Allah. Pendamaian itu diperoleh melalui persekutuan dengan Kristus. Percaya kepada karya penebusan-Nya dan hidup dalam hubungan dengan Dia. Yesus mengakui bahwa "damai" juga bisa diberikan oleh dunia yang berasal dari Setan."Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."Dunia ini juga bisa menawarkan apa yang disebut kedamaian. Namun sebagaimana yang Yesus katakan jika memang kita percaya pada perkataanNya bahwa damai yang diberikan dunia melalui segala konsep-konsepnya berbeda dengan damai yang diberikan oleh Tuhan sendiri. Di dalam dunia ini ada banyak kelompok yang menawarkan kedamaian menurut cara mereka melalui Yoga, Trancedental Meditation, Reiki, dll. Semua ini "damai" yang ditawarkan dunia kepada tetapi Allah tidak menginginkan anaknya mencari damai sejahtera yang ditawarkan dunia. Kenapa Allah melarang anak-anak-Nya mencari damai sejahtera yang berasal dari dunia? Di samping dunia yang kelihatan ini, juga ada dunia yang tidak kasat mata. Di dunia yang tidak kasat mata dibagi lagi menjadi dua kawasan yang saling kontradiksi pada segi prinsip maupun kuasa. Kawasan yang pertama adalah Surga, kediaman Allah yang maha tinggi, kawasan yang kedua adalah tempat tinggal setan, roh-roh di udara. Dua kekuatan ini sama-sama bekerja pada alam yang tampak yang dihuni oleh manusia. Tidak ada wilayah abu-abu di dunia ini. Jika anda berada di kawasan Allah maka Anda tidak bisa sekaligus berada di kawasan Setan. "Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua Tuan", demikian kata damai sejahtera yang diajarkan Allah ada di dalam Alkitab. Berarti apa yang disebut damai sejahtera namun tidak mengandung prinsip-prinsip yang terdapat di dalam Alkitab maka itu bukan damai sejahtera yang berasal dari Allah. Damai itu dari dunia, sedangkan dunia tanpa Allah berarti tempat bagi kehadiran Setan. Alasan berikutnya, mengapa Allah melarang sesorang untuk mencari damai sejahtera dunia adalah semua damai sejahtera yang diajarkan dunia bersumber dari kekuatan manusia sendiri yang menafikan karya Allah di dalamnya. Hal ini menyebabkan manusia rawan jatuh ke dalam penipuan-penipuan serta penyesatan yang dilancarkan oleh Setan sendiri. Allah tidak ingin manusia terus-menerus disesatkan oleh menginginkan anak-anak-Nya bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Bukan karena Allah ingin diakui, atau gila hormat. Semua demi kebaikan kita, karena Dia Pribadi yang mengasihi kita dan tidak pernah memiliki maksud jahat dalam kehidupan kita. Dia tidak pernah ingin menyesatkan kita ke dalam kebinasaan. Sedangkan Iblis adalah Pendusta bahkan Bapa segala dusta, kita tidak pernah tahu sejauh mana akal liciknya untuk menjatuhkan kita. Allah tidak ingin manusia jatuh kedalam kelicikan menikmati damai sejahtera Allah? Allah menginginkan umatNya terus menerus hidup dalam damai sejahtera setelah mereka hidup dalam perdamaian dengan Allah. Bahkan damai sejahtera seharusnya menjadi ciri kehidupan orang Memiliki persekutuan yang intim dengan Kolose 315, Paulus menegaskan kepada jemaat Kolose bahwa, "mereka dipanggil supaya menjadi satu tubuh. Menjadi satu tubuh sangat identik dengan sebuah persekutuan, dan persekutuan yang diawali dari persekutuan yang intim dengan memiliki persekutuan yang erat dengan Allah maka secara otomatis kita akan mengalami damai sejahtera Allah di dalam hidup kita. Persekutuan di sini bukan sekedar karna kewajiban dan kebiasaan. Juga bukan hanya cukup pada ibadah pada hari minggu. Namun setiap waktu, setiap saat memiliki hati yang terfokus kepada Allah. Konsekuensi persekutuan yang intim dengan Allah adalah terjalinnya persekutuan satu tubuh dengan sesama jemaat yang lain. Satu tubuh berarti turut merasakan penderitaan yang dialami oleh jemaat Tuhan yang lain. Satu tubuh berarti memiliki empati terhadap apa yang dialami oleh orang lain - saling mengasihi dan tolong Memiliki Pikiran KristusDalam Kolose 315, Paulus menekankan bahwa, "hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah di hatimu". Kata "memerintah" menggunakan kata "brabeuo". Kata ini hendak menekankan bahwa hidup kita harus berada di bawah otoritas Kristus. Atau dengan kata lain, dia yang berkuasa, dominan dan menguasai segala aspek hidup kita, termasuk pikiran kita. Ketika Dia telah memerintah dalam hati kita, maka otomatis pikiran kita pun akan menjadi sama dengan pikiran cukup hanya dengan beribadah, namun kita juga harus merubah pola pemikiran kita yang gampang terpengaruh dengan keadaan-keadaan jasmani. Pikiran yang mudah dipengaruhi dengan keadaan jasmani akan berdampak kepada perasaan. Perasaan yang dipengaruhi dengan keadaan jasmani yang negatif akan menimbulkan kekuatiran, ketakutan, rasa tidak tenang yang berlebih-lebihan. Pikiran Kristus adalah Firman Allah, menyelaraskan pikiran kita dengan firman Allah. Menempatkan Firman Allah lebih tinggi dari keadaan-keadaan jasmani yang terlihat. Dengan memfokuskan diri kepada Firman Allah maka shalom Kristus akan memerintah di dalam kehidupan Selalu mengucap syukurPaulus dalam kalimat terakhir Kolose 315 mengatakan, "Bersyukurlah". Dengan imperatif ini maka Paulus hendak menekankan bahwa setiap orang yang telah memiliki damai sejahtera Kristus pasti akan selalu bersyukur. Dan ucapan syukurnya tidak berkondisi. Akan tetapi mengucap syukur dalam segala hal, dalam segala keadaan, bahkan termasuk dalam menghadapi yang tidak bisa bersyukur adalah orang yang selalu bersungut-sungut atau mengeluh. Mengeluh adalah sebuah perbuatan yang sangat tidak disenangi oleh Allah. Karena mengeluh itu menunjukkan ketidakpuasan akan apa yang sudah Allah beri dalam hidup kita. Mengeluh akan membawa kehidupan kita semakin buruk. Kata-kata bisa membawa kepada kehidupan namun juga membawa kepada kematian. Suatu saat apa yang sering kita keluhkan tanpa kita berubah akan menjadi kenyataan dalam hidup itu kita harus mengubah keluhan menjadi kata-kata iman, kata-kata berkat, kata-kata kehidupan dalam hidup kita. Dengan selalu bersyukur maka kita akan memiliki shalom itu dalam kehidupan suatu hari di sebuah Kerajaan. Seorang raja membuat lomba yang membuat para pelukis tersohor dari negeri-negeri pun berdatangan. "Lomba melukis yang berjudul 'damai sejahtera' , aku beri waktu 3 hari. Yang terbaik akan aku beri hadiah" kata sang raja. Tiga hari kemudian.. cuma 3 pelukis yg berhasil menyelesaikan gambar mereka dan memberikan pada sang raja. Lukisan 1 ada sebuah danau biru yg bening dengan ikan-ikan yang banyak dan di tengah-tengah terdapat perahu kecil dan seorang yang sedang bersiul memancing dengan angin sepoi-sepoi dan langit biru yang cerah "Inilah damai sejahtera" kata pelukis pertama. Lukisan 2 ada sebuah gunung yang hijau, udara khas yang sejuk dengan sawah-sawah.. matahari yang cerah, pohon yang rindang.. dan 2 orang sedang duduk di bawah pohon sambil tertawa bahagia. "Inilah damai sejahtera" kata pelukis kedua. Lukisan 3 sebuah laut yang luas berwarna hitam karena sedang terjadi badai, di tengah-tengah ada angin topan, langit yg gelap dengan sambaran petir di mana-mana. Sebuah batu karang yang diterjang ombak. Langit hitam pekat bahkan terlihat abstrak karena warna yang dipakai hanya warna gelap.. tapi, terdapat 1 batu karang yg ada lubang, di dalamnya terdapat seekor burung pipit sedang bersiul riang. "Inilah damai sejahtera" kata pelukis ketiga. "Aku setuju dengan lukisan 3" kata Raja. Damai sejahtera bukanlah di mana kita sedang dalam keadaan atau posisi nyaman-nyaman saja tanpa masalah, itu namanya comfort sejahtera adalah seseorang yg tetap bisa tersenyum ketika badai masalah datang menerpanya dan itu hanya dimungkinkan apabila bersama-sama dengan Tuhan Yesus. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
Sebabkita sudah harus berfikir yang jauh lebih dari pada itu, berfikir tentang kondisi dunia hari ini, apa yang sedang terjadi? Pemandangan Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera. 8:12 Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. 'Tidak akan ada damai di antara negara, jika tidak ada damai di negara, tidak ada damai dalam negara jika tidak ada damai dalam orang-orangnya, tidak ada damai dalam orang-orang jika orang-orang tidak menyerahkan hidupnya ke tangan si Raja Damai'. Demikian ungkap Heyden Robinson, penulis buku Salt And Light. Benar sekali bahwa damai sejahtera yang sejati hanya dapat kita miliki di dalam Kristus Yesus. Usaha terbaik manusia untuk menggapai damai sejahtera tidak akan pernah sampai pada yang sejati jika bukan di dalam sejahtera itu adalah hak dan sekaligus tanggungjawab setiap orang yang mengikut Yesus. "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Kolose 315." Damai sejahtera itu bermulanya di dalam hati, bukan di bagian eksternal atau interaksi dengan sesama kita. Orang yang berusaha perform damai sejahtera tanpa benar-benar dipenuhi damai itu, pasti sangat lelah. Damai sejahtera itu tidak pernah dimaksudkan untuk konsumsi pribadi pula, tujuannya adalah untuk kebutuhan hidup memang mesti menjadi seorang agen pendamaian peace maker bagi dunia ini, untuk itulah saya menerima anugerah pendamaian dari Kristus ini. Saya diperdamaikan untuk membantu orang lain mendapat damai sejati. Tugas utama saya sekarang adalah mengusahakan damai dalam diri saya benar-benar nyata dan sejati. Tidak ada tugas yang lebih mulia daripada tugas pendamaian ini, ini adalah sebuah privilege bagi saya. 1. DAMAI SEJAHTERA KITA DAPAT MELALUI DARAH KRISTUS, PENDAMAIAN MANUSIA BERDOSA DENGAN ALLAH YANG KUDUS Manusia yang hidup dalam dosa tak mungkin memiliki damai sejahtera, mereka itu sudah tertipu, mereka diperbudak Iblis, mereka terpisah dari Allah. Kita menjadi seteru bagi Allah, kita sedang memberontak padaNya. Bayangkan semua kekacauan itu, di mana letak damainya? Tidak ada, tidak mungkin. Maka Kristus datang dan membayar pemberontakan kita itu, Dia mendamaikan kita dengan Allah. Di situlah letak dari pintu kita menuju damai DAMAI SEJAHTERA HARUS DIMULAI DALAM DIRI SENDIRI, SELURUH DIRI KITA DIKENDALIKAN OLEH DAMAI ITUCara kerja damai itu adalah dengan memerintah hati dan pikiran kita, setelah kita menerima Kristus. Menerima Kristus itu tidak pernah berbentuk pasif, itu adalah sesuatu yang aktif, kita aktif memastikan damai sejahtera itu sekarang bertanggungjawab mengatur semua suasana dan keputusan hati saya tidak bekerja dari luar, tetapi dari dalam. Damai saya tidak bergantung pada apa yang sedang terjadi di sekitar saya tetapi apa yang terjadi di dalam hati saya. Saya selalu mesti ingat bahwa darah Kristus telah memperdamaikan saya dengan Allah. Damai sejahtera yang dulu hilang, sejak dosa masuk ke dalam dunia, telah dikembalikan oleh darah itu. Jadi mengapa hidup saya bisa kehilangan damai sejahtera? Jelas penyebabnya adalah bila saya kehilangan pandangan saya akan pengorbanan Kristus, Tuhanku. 3. DAMAI SEJAHTERA BUKAN UNTUK KONSUMSI/KALANGAN SENDIRI, TETAPI MODAL UNTUK HIDUP BERSAMAMeski damai itu harus bermula di internal manusia, tetapi damai itu tidak pernah dimaksudkan untuk kalangan sendiri saja. Kehendak Tuhan Yesus adalah agar kita menjadi peace maker, bukan hanya peace owneratau peace keeper. Kita menegakkan damai Tuhan dalam pekerjaan, dalam rumah tangga, dalam pergaulan dan dalam segala aspek hidup punya tanggungajawab besar atas hak yang sebesar damai sejahtera Kristus ini. Saya mesti membagikannya dan aktif memakainya dalam setiap apapun yang saya lakukan. Tetapi itu hanya akan otentik jika ternyata memang saya dipenuhi, damai itu meluber dari diri saya kepada sekitar saya. Seperti petugas teller atau security yang ramah dan hormat kepada customer, apakah itu karena mereka orang yang sabar dan rendah hati serta lemah lembut atau hanya tuntutan profesionalisme? Pastinya kalau itu tidak memenuhi dan meluber dari dalam hatinya, maka ia akan sangat kecapekan dan bosan dengan semuanya. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
Salamsejahtera dalam kasih jesus kristus.Saya memuji tuhan kerana pada hari ini,semua yang kita usahakan dapat kita saksikan dengan nyata keranaanugerah tuhan maka pelayanan KBM Hebron berada sebagaimana adanya pada hari ini.Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk menghargai serta mengucapkan banyak terima kasih pada semua saudara dan saudari yang

“Bagaimanakah saya menafkahi keluarga kalau saya di-PHK?”“Apakah saya akan punya cukup uang untuk pensiun?”“Jalan-jalan berekreasi tidak lagi aman karena ancaman-ancaman terorisme.”“Saya tidak bisa membayangkan kalau saya kehilangan orang-orang yang saya sayangi karena penyakit kanker.”Anda tidak meminta banyak hal. Yang Anda inginkan adalah hidup berkecukupan dan menikmati kesederhanaan hidup – memelihara keluarga Anda dan menjaga mereka. Tetapi dalam kehidupan, hal-hal kecil pun dapat berubah menjadi tidak tahu apakah yang akan terjadi besok – tidak ada jaminan pekerjaan, penyakit-penyakit baru bermunculan setiap hari, dan tingkat kejahatan terus meninggi. Dengan banyaknya jenis-jenis bakteri baru, kita bahkan tidak merasa aman dengan makanan yang ada di meja kita berusaha melakukan segala hal untuk menenangkan diri Mengikuti petunjuk para ahli. Menjalankan pola makan sehat. Berinvestasi dengan bijak. Memelajari kemampuan baru kalau-kalau kita berganti pekerjaan. Betapa keras usaha kita untuk memperoleh damai sejahtera!Yang lebih melelahkan lagi, ketika kita akhirnya mencapai kemapanan materi atau jasmani ini dalam hidup kita, persoalan-persoalan lain bermunculan. Kita tidak dapat menghindari pergumulan batin dan pergaulan, dan hal-hal seperti ini jauh lebih sulit dikendalikan. Walaupun kita telah berusaha dan bermaksud baik, kita bertengkar dengan keluarga dan teman. Kita tidak dapat berkomunikasi dengan orang tua atau anak kita. Kita mempertengkarkan hal-hal kecil dengan pasangan kita. Kita tidak tahan dengan atasan sulit mengendalikan arah tujuan hidup kita, karena kita melupakan bahwa ada seseorang yang luput dari gambaran yang tidak kita sadari. Selama ini, kita berusaha mengarahkan segala hal sesuai dengan keinginan kita, dan kalau itu terjadi, kita merasakan kesan damai yang sementara – kalau semuanya berjalan lancar. Tetapi begitu suatu kendala terjadi, rasa damai itu langsung buyar.“Mengapa saya tidak bisa merasa tenang?”“Mengapa saya tidak merasakan damai sejahtera?”“Apakah yang harus saya lakukan?”“Tidak adakah cara lain?”Ya, ada cara sejahtera yang sesungguhnya tidak dapat diperoleh dengan upaya pribadi atau keinginan keras semata. Tetapi hanya melalui Yesus Kristus. Ia berkata.“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yoh. 1427Ini adalah pernyataan berani yang menjanjikan damai sejahtera bagi siapa saja yang memintanya. Bagaimanakah itu dimungkinkan? Siapakah Yesus? Tahu apa Dia tentang masalah dan kesulitan kita?Yesus adalah anak seorang tukang kayu yang miskin, dan Ia adalah seorang guru yang berkelana. Namun, Yesus bukan sekadar manusia. Ia juga adalah Allah. Ia datang ke bumi dan mengajarkan kita cara untuk hidup dalam damai sejahtera. Yesus mengalahkan masalah-masalah dan kegelisahan-Nya, dan dengan perkataan dan perbuatan Ia membuktikan bahwa Ia berkuasa melakukan hal yang sama untuk perkataan-Nya dengan saksama – Ia tidak menjanjikan damai sejahtera seperti yang ditawarkan oleh dunia. Memperoleh kedamaian dengan usaha sendiri tidak mudah, karena kita berusaha mencarinya dari hal-hal duniawi, entah itu harta kekayaan, dari orang lain, atau dari kehendak diri sendiri. Dan Tuhan Yesus juga tidak mencoba menipu kita karena Ia mengetahui bahwa kita akan menghadapi masalah-masalah dalam hidup kita.“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yoh. 1633Ia juga memberitahukan kita bahwa Ia telah mengalahkan dunia dan hanya melalu Dia saja kita bisa mendapatkan jenis kedamaian yang berbeda – damai sejahtera yang dari Dia. Damai sejahtera-Nya adalah pengharapan bahwa kita mempunyai seseorang yang akan menolong kita melalui setiap macam masalah yang kita hadapi, bahkan sebelum kita melihatnya. Inilah yang memberikan keyakinan bagi kita untuk menjalani hidup ini, tanpa menguatirkan setiap masalah yang dapat muncul pada pandangan kita patut bersukacita, karena kita mengetahui bahwa Ia telah mengalahkan dunia. Ia telah melalui segala tantangan yang kita hadapi, dan Ia memahami apa saja yang kita lalui. Dalam masa-masa sulit, kita merasa tenang karena mengetahui bahwa Ia memahami dan bersimpati kepada kita. Bahkan ketika masalah mendera, kita terhibur karena itu semua adalah pelajaran yang ingin disampaikan Kristus kepada kita, karena Ia senantiasa bekerja demi kebaikan kita, apabila kita percaya kepada-Nya dan mencari segala jawaban dari mengasihi kita dan ingin memberikan hidup kekal, dan apabila Ia menginginkan sesuatu yang indah seperti hidup kekal bagi kita, betapa lebih lagi Ia akan memelihara kita dari kebutuhan hidup dan perkara dunia?Berapakah harga damai sejahtera? Gratis. Yang diperlukan adalah percaya. Biarlah damai sejahtera Kristus diam dalam hati Anda dan melepaskan segala kegelisahan Anda kepada-Nya – Ia dapat mengurusnya. Langkah tersulit mungkin adalah langkah pertama untuk sepenuhnya membuka diri Anda kepada Yesus Kristus. Tetapi begitu Anda mengambil langkah pertama itu, Anda akan melihat bahwa damai sejahtera-Nya sungguh dan mengenal Yesus sekarang!

BacaanFirman Tuhan: Mazmur 90: 1-12. Ayat 1-2 Allah Pencipta Kehidupan adalah tempat perlindungan. Disini pemazmur menjelaskan bahwa kehidupan ini terjadi bukan ada dengan sendirinya, tetapi ada kuasa besar yang melahirkan kehidupan dan segala sesuatu yang ada di dunia ini, yaitu Tuhan pencipta segala sesuatu, Dia adalah Allah yang kekal “dari selama
Jawabansupaya tidak adanya perselisihan antara satu sama lain Jawabanagar tidak Ada pertengkaran atau keributan di nusantara
ofJI2.
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/202
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/341
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/179
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/133
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/198
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/390
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/357
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/78
  • qk3a5ep1j0.pages.dev/245
  • apa yang terjadi apabila manusia tidak memiliki damai sejahtera